Ekonomi NTB Berpotensi Melambat, Produksi Tambang AMNT Turun 40 Persen

  • 04 Agt 2026 18:09 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Produksi konsentrat tembaga PT AMNT turun hingga 40 persen setelah relaksasi ekspor berakhir, sehingga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi NTB.
  • BPS NTB menilai dampak tersebut bersifat sementara karena peningkatan kapasitas smelter diharapkan dapat mendorong industri pengolahan dan menopang ekonomi daerah.

RRI.CO.ID, Mataram - Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada triwulan II 2026 diperkirakan melambat. Penyebab utamanya adalah turunnya produksi sektor pertambangan setelah kebijakan relaksasi ekspor konsentrat tembaga berakhir pada April 2026.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Wahyudin, mengatakan produksi konsentrat tembaga PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) turun hingga 40 persen. Penurunan ini diperkirakan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah karena sektor pertambangan menjadi salah satu penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB.

"Kalau produksi tambang turun, pasti ada pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi," kata Wahyudin, Selasa 4 Agustus 2026.

Menurut Wahyudin, struktur ekonomi NTB masih ditopang tiga sektor utama, yakni pertanian dengan kontribusi sekitar 22 persen terhadap PDRB, pertambangan 19 persen, dan perdagangan. Jika ketiga sektor tersebut sama-sama melemah, pertumbuhan ekonomi NTB ikut tertekan.

Ia menjelaskan, setelah relaksasi ekspor berakhir, hasil tambang kini hanya dapat diserap oleh smelter Aman Mineral Industri (AMIN). Meski telah beroperasi penuh, kapasitas pengolahannya belum maksimal.

Saat ini smelter baru beroperasi sekitar 50 persen atau mampu mengolah 400 ribu ton konsentrat per tahun dari kapasitas terpasang 800 ribu ton. Kondisi itu membuat AMNT mengurangi produksi karena keterbatasan daya tampung.

"Kalau produksi tetap seperti biasa, hasilnya mau disimpan di mana. Kapasitas penyimpanan juga terbatas," ujarnya.

Meski begitu, Wahyudin optimistis kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Seiring meningkatnya kapasitas smelter, kontribusi sektor industri pengolahan diperkirakan akan terus naik dan menutup perlahan penurunan di sektor pertambangan.

Menurutnya, smelter akan menghasilkan produk bernilai tambah seperti katoda tembaga, emas, perak, hingga asam sulfat. Jika seluruh fasilitas beroperasi lebih optimal, produksi diperkirakan meningkat dan kembali mendorong pertumbuhan ekonomi NTB.

Saat ini kontribusi industri pengolahan terhadap PDRB NTB masih sekitar 5-6 persen. Namun ke depan angkanya diperkirakan terus meningkat.

Meski demikian, Wahyudin menilai operasional smelter kemungkinan tidak akan mencapai kapasitas 100 persen. Menurutnya, tingkat operasi maksimal diperkirakan berada di kisaran 85 persen karena masih ada kendala teknis dan keterbatasan penyimpanan hasil produksi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....