Kain Lombok dan Jejak Peradaban Dunia, Bukti bahwa Nusantara sejak Lama Terhubung
- 30 Jul 2026 15:02 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Tenun NTB
- Buku Two Islands One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collection
- NTB Mendunia
RRI.CO.ID, Mataram - Kain tenun Lombok menyimpan cerita panjang tentang perjalanan budaya masyarakat Nusantara. Tidak hanya menjadi hasil karya seni, kain juga menjadi bukti adanya hubungan perdagangan, pertukaran budaya, dan interaksi masyarakat Lombok dengan dunia luar sejak ratusan tahun lalu.
Hal tersebut disampaikan dalam program Dialog Berugak Kita Pro4 RRI Mataram yang berlangsung secara live melalui YouTube RRI Mataram Official. Dialog tersebut menghadirkan Dr. James Bennet, Emeritus Curator of Southeast Asian Art Museum and Art Gallery of the Northern Territory Darwin, Australia, serta Dr. Ahmad Nur Alam, SH., MH., Kepala Museum Negeri NTB.
Dalam dialog tersebut, Dr. James Bennet menjelaskan bahwa sejarah kain di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perjalanan manusia dan hubungan antarwilayah. Menurutnya, kain menjadi salah satu bukti bahwa masyarakat Nusantara sejak dahulu telah berinteraksi dengan berbagai kebudayaan dunia.
“Kebudayaan Indonesia sangat kaya. Kita mungkin bisa hidup seribu tahun dan belum mengerti semuanya,” ujar Dr. James Bennet dalam Dialog Berugak Kita Pro4 RRI Mataram.
Ia menjelaskan bahwa Lombok bukanlah wilayah yang berdiri sendiri atau terisolasi pada masa lalu. Pulau ini berada dalam jalur perdagangan penting Nusantara, termasuk jalur rempah yang menghubungkan berbagai wilayah di Indonesia hingga kawasan internasional.
Sementara itu, Dr. Ahmad Nur Alam menjelaskan bahwa berbagai koleksi yang tersimpan di Museum Negeri NTB menjadi bukti nyata perjalanan budaya tersebut. Salah satunya adalah koleksi kain songket Maharaja Sangaji yang memiliki hubungan sejarah dengan Kesultanan Sumbawa dan Kesultanan Bima.
“Benda-benda budaya ini tidak mungkin muncul begitu saja. Ada perjalanan manusia, ada hubungan perdagangan, dan ada pertukaran budaya yang terjadi sehingga benda tersebut sampai kepada kita hari ini,” jelas Dr. Ahmad Nur Alam.
Menurutnya, keberadaan koleksi tekstil di museum memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memahami bahwa budaya lokal memiliki nilai yang sangat besar. Museum tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda lama, tetapi juga ruang belajar untuk membaca sejarah.
Dr. James Bennet juga menyoroti bahwa banyak benda budaya Indonesia yang saat ini berada dalam koleksi internasional. Ia menyebut kain Lombok, keris, hingga naskah lontar menjadi bagian dari perhatian kolektor dan lembaga budaya di berbagai negara.
Ia menjelaskan bahwa terdapat tantangan dalam penelitian kain Lombok karena beberapa koleksi di luar negeri tercatat menggunakan nama lain. Pada masa lalu, kain dari Lombok yang dipasarkan melalui Bali sering disebut sebagai kain Bali karena pengaruh perdagangan dan popularitas Bali pada masa itu.
“Kadang-kadang kain Lombok masuk dalam koleksi internasional sebagai kain Bali karena dibeli melalui Bali. Ini menjadi tantangan bagi penelitian sejarah kain Lombok,” kata Dr. James Bennet.
Dr. Ahmad Nur Alam menegaskan bahwa kondisi tersebut menjadi alasan pentingnya penelitian dan dokumentasi budaya dilakukan oleh masyarakat lokal. Menurutnya, kekayaan budaya NTB harus ditulis dan dikaji agar memiliki catatan sejarah yang kuat.
Ia berharap semakin banyak generasi muda Lombok dan NTB yang tertarik melakukan penelitian terhadap budaya daerahnya sendiri. Dengan begitu, warisan budaya tidak hanya menjadi cerita turun-temurun, tetapi juga menjadi pengetahuan yang dapat dikenal masyarakat internasional.
Dialog Berugak Kita Pro4 RRI Mataram tersebut menjadi pengingat bahwa kain tenun Lombok bukan hanya berbicara tentang keindahan motif dan warna, tetapi juga tentang perjalanan manusia, hubungan budaya, dan posisi Nusantara dalam sejarah dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....