200 Tahun Dikira Merak, Ternyata Burung Khas Australia

  • 29 Jul 2026 11:22 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Motif burung di kain songket Lombok Timur ternyata bukan merak, melainkan burung kecapi endemik Australia yang dibawa lewat jalur pelayaran abad ke-19.

RRI.CO.ID, Mataram - Selama hampir dua abad, motif burung pada sehelai kain songket asal Lombok Timur diyakini sebagai gambar merak. Namun penelitian terbaru yang dituangkan dalam buku Two Islands One Thread: Lombok and Bali Textiles from The Michael Abbott Collections mengungkap fakta yang jauh lebih mengejutkan: burung itu ternyata adalah burung kecapi (lyrebird), spesies yang endemik di Australia.

Temuan ini terungkap saat Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar riset atas koleksinya sendiri, sebagaimana dikisahkan dalam tayangan Berugak Kita RRI Mataram, Selasa 28Juli 2026 bersama Emeritus Curator of South East Asian Art asal Australia, Dr. James Bennett, dan Kepala Museum NTB, Dr. Ahmad Nuralam, SH., MH.

Bennett menceritakan, temuan motif ini pada awalnya menimbulkan perdebatan kecil antara dirinya dan pihak museum. Sebab, dalam catatan kurasi Museum NTB selama ini, motif tersebut selalu dilabeli sebagai gambar merak.

"Yang menarik, waktu Museum NTB mengadakan penelitian tentang koleksinya, kami menemukan satu kain songket dari Lombok Timur dan ada motif burung kecapi dari Australia. Padahal kain itu berasal dari akhir abad ke-19. Jadi kami tahu sudah ada gambar-gambar hewan Australia disebarkan di Lombok hampir 200 tahun yang lalu," ujar Bennett.

Perdebatan itu baru terjawab setelah Bennett menunjukkan hasil pencarian gambar burung kecapi lewat ponselnya, yang ternyata identik dengan motif pada kain songket tersebut. Sejak itu, Museum NTB mengoreksi identifikasi motif kain koleksinya dari "merak" menjadi "burung kecapi Australia".

Menariknya, motif burung kecapi pada kain songket itu sendiri tidak sepenuhnya akurat secara anatomi dan justru dari situlah usia kain bisa dipastikan. Bennett menjelaskan, penenun Lombok kala itu tidak melihat langsung wujud burung kecapi, melainkan mencontoh dari gambar yang beredar di Eropa, yang pada masanya juga masih keliru menggambarkan bentuk burung tersebut.

"Yang menarik tentang gambar itu dalam kain songket, gambarnya salah. Kami tahu pertama kali orang Eropa membuat gambar tentang burung itu di Eropa, mereka belum lihat secara langsung, sebelumnya mereka hanya dengar cerita-cerita dari pelaut," papar Bennett. "Kami bisa memastikan tanggalnya dari kesalahan gambar itu, karena itu dari sekitar tahun 1850-an," tambahnya.

Menurut Dr. Ahmad Nuralam, masuknya motif asing seperti burung kecapi ke dalam kain tradisional Lombok tak lepas dari peran Pelabuhan Ampenan yang pada abad ke-19 menjadi salah satu titik singgah penting kapal-kapal Inggris dalam pelayaran menuju Australia. Kapal-kapal itu kerap mampir untuk mencari bekal, sekaligus membuka ruang pertukaran budaya dan barang antara Lombok dengan dunia luar.

Temuan motif burung kecapi ini bukan satu-satunya jejak pengaruh asing dalam tekstil Lombok. Riset yang sama juga menemukan kain batik bergaya Eropa yang beredar di Lombok sejak abad ke-18 — bukti bahwa pedagang Eropa kala itu sudah merancang produk sesuai selera pasar Nusantara, jauh sebelum istilah "riset pasar" dikenal.

Bagi Museum NTB, kisah di balik sehelai kain songket ini menjadi bukti bahwa masyarakat Lombok telah terhubung dengan dunia internasional sejak dua abad lalu, jauh sebelum era globalisasi seperti sekarang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....