Kain Tenun Lombok: Warisan Ratusan Tahun yang Menghubungkan Sejarah, KerajaaN
- 30 Jul 2026 14:59 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Buku Two Islands One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collection
- NTB Mendunia
- SEJARAH TENUN NTB
- Tenun NTB
RRI.CO.ID Mataram - Kain tenun Lombok bukan hanya sebuah karya seni berbahan benang, tetapi juga menjadi catatan perjalanan sejarah masyarakat Nusantara. Setiap motif, warna, dan susunan benang menyimpan kisah tentang hubungan kerajaan, perdagangan, pertukaran budaya, serta kemampuan masyarakat lokal dalam menciptakan karya bernilai tinggi sejak ratusan tahun lalu.
Hal tersebut mengemuka dalam program Dialog Berugak Kita Pro4 RRI Mataram yang berlangsung secara live melalui YouTube RRI Mataram Official. Dialog tersebut menghadirkan dua narasumber yang memiliki perhatian besar terhadap sejarah dan kebudayaan, yakni Dr. James Bennet, Emeritus Curator of Southeast Asian Art Museum and Art Gallery of the Northern Territory Darwin, Australia, serta Dr. Ahmad Nur Alam, SH., MH., Kepala Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dalam dialog tersebut, Dr. Ahmad Nur Alam menjelaskan bahwa Museum Negeri NTB menyimpan berbagai koleksi budaya yang menjadi bukti perjalanan panjang peradaban masyarakat Nusa Tenggara Barat. Salah satu koleksi tekstil yang memiliki nilai sejarah tinggi adalah kain songket Maharaja Sangaji yang diperkirakan berasal dari sekitar tahun 1780-an.
“Kain itu namanya kain songket Maharaja Sangaji. Itu dibuat waktu pernikahan Sultanah Sumbawa, putri mahkota dengan Kerajaan Bima. Di kain itu terdapat logo Kesultanan Bima dan logo Kesultanan Sumbawa, sehingga menjadi catatan sejarah yang sangat penting,” ujar Dr. Ahmad Nur Alam dalam Dialog Berugak Kita Pro4 RRI Mataram.
Menurut Dr. Ahmad, keberadaan kain tersebut menunjukkan bahwa kain pada masa lalu bukan hanya berfungsi sebagai pakaian, tetapi juga memiliki nilai sosial, politik, dan budaya. Kain menjadi bagian dari peristiwa penting kerajaan sekaligus menjadi simbol hubungan antarwilayah di Pulau Sumbawa dan Lombok.
Sementara itu, Dr. James Bennet menjelaskan bahwa keberadaan kain-kain kuno di Indonesia memperlihatkan bahwa masyarakat Nusantara telah memiliki kemampuan menenun sejak masa yang sangat lama. Ia menyebut bahwa sejarah kain tidak bisa dilepaskan dari perjalanan manusia, jalur perdagangan, dan hubungan antarbudaya yang telah berlangsung sejak ribuan tahun lalu.
“Kebudayaan Indonesia sangat kaya dan kita mungkin bisa hidup seribu tahun tetapi belum mengerti semuanya,” ungkap Dr. James Bennet dalam dialog tersebut.
Menurutnya, kain merupakan salah satu bukti bahwa Indonesia sejak dahulu telah menjadi bagian dari peradaban dunia melalui jalur perdagangan dan pertukaran budaya.
Selain kain tenun lokal, pembahasan dalam Dialog Berugak Kita juga mengungkap keberadaan kain batik yang memiliki cerita menarik. Dr. Ahmad Nur Alam menjelaskan bahwa Museum Negeri NTB memiliki koleksi kain batik yang ternyata dibuat di Eropa, kemudian dipasarkan ke wilayah Nusantara.
Kain tersebut memiliki karakteristik berbeda dengan kain batik tradisional Nusantara pada masa lalu, terutama dari sisi ukuran. Jika kain lama umumnya memiliki lebar kurang dari 80 sentimeter karena dibuat dengan alat tenun sederhana, kain tersebut memiliki ukuran sekitar 1,20 meter yang menunjukkan penggunaan teknologi berbeda dalam proses pembuatannya.
Menurut Dr. James Bennet, fenomena tersebut menunjukkan bahwa sejak dahulu masyarakat dunia telah melakukan kajian terhadap kebutuhan pasar Nusantara. Para pedagang dari luar tidak hanya membawa barang, tetapi juga mempelajari selera dan kebutuhan masyarakat lokal sebelum membuat produk yang sesuai.
“Sebelum menjual ke suatu daerah, mereka sudah mempelajari apa yang dibutuhkan daerah tersebut. Mereka menyesuaikan barang yang dijual dengan pangsa pasar,” jelas Dr. James Bennet.
| Baca juga: Festival Peresean Kembang Kuning Ditutup |
Perjalanan kain Lombok juga memperlihatkan bahwa wilayah ini sejak dahulu tidak pernah menjadi daerah yang terisolasi. Lombok berada dalam jalur perdagangan penting Nusantara, termasuk jalur rempah yang menghubungkan berbagai wilayah hingga dunia internasional.
Dr. Ahmad Nur Alam menambahkan bahwa koleksi Museum Negeri NTB saat ini mencapai sekitar 7.000 benda budaya. Namun, tidak seluruh koleksi tersebut ditampilkan dalam ruang pamer tetap karena hanya sebagian kecil yang dapat dipamerkan dalam satu waktu.
“Yang kita pamerkan di ruang tetap hanya sekitar 7 sampai 8 persen dari total koleksi. Koleksi lainnya kita tampilkan melalui pameran temporer dengan tema yang berbeda-beda,” jelas Dr. Ahmad Nur Alam.
Ia juga menyampaikan bahwa Museum Negeri NTB terus melakukan pengembangan agar masyarakat mendapatkan pengalaman baru saat berkunjung. Salah satunya melalui penataan ruang koleksi khusus serta program Night at Museum yang memberikan kesempatan masyarakat menikmati museum pada malam hari dengan suasana berbeda.
Melalui Dialog Berugak Kita Pro4 RRI Mataram, masyarakat diajak memahami bahwa kain tenun Lombok bukan sekadar produk kerajinan, tetapi merupakan sumber pengetahuan sejarah yang merekam perjalanan budaya, hubungan antarwilayah, dan interaksi masyarakat Nusantara dengan dunia luar.
Bagi Dr. James Bennet dan Dr. Ahmad Nur Alam, penelitian terhadap kain Lombok merupakan langkah penting untuk menjaga warisan budaya agar tidak hanya dikenal oleh masyarakat lokal, tetapi juga dapat menjadi bagian dari literatur budaya internasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....