Lebaran Topat di Mataram Jadi Simbol Toleransi dan Warisan Budaya yang Terjaga

  • 28 Mar 2026 13:43 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Pemerintah Kota Mataram menegaskan komitmennya untuk mempertahankan esensi perayaan Lebaran Topat sebagai momentum silaturahmi, pelestarian budaya, sekaligus penguatan nilai toleransi di tengah masyarakat yang majemuk.

Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, saat menghadiri puncak perayaan Lebaran Topat di Makam Bintaro mengatakan meskipun terdapat penyesuaian dalam pelaksanaan kegiatan dari tahun ke tahun, perubahan tersebut hanya bersifat teknis mengikuti perkembangan zaman, tanpa menggeser makna utama dari tradisi tersebut.

“Yang terpenting, esensi Lebaran Topat ini tidak bergeser. Ini adalah momentum untuk bersilaturahmi, saling memaafkan, dan mempererat kebersamaan di tengah masyarakat,” ujarnya, Sabtu 28 Maret 2026.

Ia menjelaskan, Lebaran Topat memiliki akar filosofi yang kuat dalam tradisi Islam dan budaya Nusantara. Ketupat, sebagai simbol utama, mengandung makna mendalam tentang pengakuan kesalahan dan saling memaafkan.

“Kalau dalam filosofi Jawa dikenal ‘ngaku lepat’, artinya mengakui kesalahan. Tradisi ini sudah ada sejak abad ke-15, diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai pendekatan budaya dalam syiar Islam,” jelasnya.

Lebih lanjut, Mohan menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan tradisi positif seperti Lebaran Topat agar tetap lestari di tengah arus modernisasi, sekaligus menjadi contoh bagi generasi muda.

“Kita punya tanggung jawab untuk terus merawat tradisi yang baik ini. Agar anak-anak kita ke depan tetap mengenal dan melestarikan budaya yang sarat nilai positif,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran perayaan, termasuk aparat keamanan dari Polri dan TNI yang dinilai berhasil menjaga situasi tetap aman dan kondusif.

“Terima kasih kepada Kapolresta dan jajaran TNI yang telah membantu menjaga keamanan. Semua kegiatan keagamaan dan tradisi di Kota Mataram bisa berjalan dengan baik,” ucapnya.

Mohan juga menyoroti bahwa perayaan Lebaran Topat menjadi bukti nyata harmonisasi antarumat beragama di Kota Mataram yang telah terjalin sejak lama.

“Perbedaan itu adalah keniscayaan. Namun kita mampu menjaganya dalam semangat toleransi. Ini menjadi contoh bahwa keberagaman bisa berjalan berdampingan secara harmonis,” jelasnya.

Ia berharap, nilai-nilai kebersamaan dan toleransi yang tercermin dalam Lebaran Topat dapat terus dijaga, di tengah berbagai tantangan global yang berpotensi memengaruhi stabilitas kehidupan masyarakat.

“Yang kita harapkan, masyarakat tetap bisa menjalani kehidupan dengan normal, aman, dan penuh kebersamaan. Pemerintah tentu akan terus berupaya memberikan yang terbaik bagi masyarakat,” ungkapnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....