Orang Tua Teladan, Anak Tumbuh dengan Kasih Sayang

  • 27 Agt 2026 08:09 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik. Anak diharapkan rajin belajar dan mengaji, memiliki sopan santun, berakhlakul karimah, serta mampu meraih berbagai prestasi. Namun, di tengah harapan besar tersebut, ada satu pertanyaan yang terkadang terlupakan, yakni, “Apakah kita sudah menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita?”

Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam Kota Mataram, Hj. Rahmi Kusbandiyah, S.Pd., M.Pd.I., dalam acara Renungan Senja, Kamis 27 Agustus 2026.

Menurut Rahmi, orang tua sering kali menuntut anak untuk menjadi yang terbaik. Namun, anak juga membutuhkan orang tua yang mau terus belajar dan memperbaiki diri dalam menjalankan peran sebagai pendidik pertama di dalam keluarga.

Dalam Islam, hubungan antara orang tua dan anak bukan sekadar hubungan antara pihak yang selalu mengajar dan pihak yang menerima ajaran. Lebih dari itu, hubungan tersebut merupakan proses saling membimbing, saling menyayangi, saling mendengarkan, dan saling menjaga.

“Orang tua harus menjadi teladan. Anak membutuhkan teladan, bukan hanya nasihat. Mungkin anak lupa apa yang kita katakan, tetapi anak sering mengingat apa yang kita lakukan,” ujarnya.

Ia mencontohkan, apabila orang tua ingin anak rajin melaksanakan salat, maka keteladanan dalam menjaga salat harus terlebih dahulu ditunjukkan di rumah. Jika ingin anak berbicara dengan sopan, orang tua juga perlu membiasakan diri bertutur kata lembut dan santun.

Begitu pula ketika menginginkan anak menghormati orang lain, orang tua harus memberikan contoh dengan menghormati sesama. Sebab, anak tidak hanya belajar melalui apa yang didengarnya, tetapi juga melalui apa yang dilihatnya setiap hari.

“Anak belajar bukan hanya lewat telinga, tetapi juga lewat mata,” katanya.

Rahmi menegaskan, menjadi orang tua terbaik bukan berarti harus menjadi orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Orang tua yang baik adalah mereka yang berani mengakui kesalahan dan terus berusaha memperbaiki diri.

Selain keteladanan, anak juga membutuhkan ruang untuk didengarkan. Menurutnya, tidak semua persoalan anak harus dijawab dengan ceramah panjang. Dalam kondisi tertentu, anak hanya membutuhkan orang tua yang bersedia mendengarkan keluh kesah dan memahami perasaannya.

Karena itu, rumah harus menjadi tempat yang membuat anak merasa aman, nyaman, dan selalu ingin pulang.

Orang tua, lanjut Rahmi, boleh bersikap tegas kepada anak, namun tidak boleh merendahkan. Orang tua juga boleh membuat aturan, tetapi perlu menjelaskan alasan dan tujuan dari aturan tersebut. Demikian pula dalam memberikan konsekuensi atas kesalahan anak, hendaknya tidak dilakukan dengan kekerasan.

“Tujuan pendidikan bukan membuat anak takut, tetapi membantu anak tumbuh menjadi manusia yang memiliki kesadaran dan tanggung jawab,” jelasnya.

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman dalam Surat At-Tahrim ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa tanggung jawab menjaga keluarga tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik. Orang tua juga memiliki kewajiban menjaga dan membimbing pemikiran, akhlak, iman, mental, serta masa depan anak-anaknya.

Menjadi orang tua terbaik, kata Rahmi, bukanlah tentang menjadi pribadi yang sempurna. Yang terpenting adalah memberikan keteladanan, menjadikan rumah sebagai tempat yang aman dan nyaman, serta membangun keluarga dengan kasih sayang.

“Semoga rumah kita menjadi tempat anak tumbuh dengan iman, ilmu, keberanian, dan kasih sayang. Anak bukan hanya masa depan keluarga, tetapi mereka adalah amanah Allah yang sedang dititipkan kepada kita hari ini,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....