Menjadi Muslim Terbaik dengan Terus Memperbaiki Akhlak Diri
- 20 Agt 2026 10:26 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Keinginan menjadi Muslim terbaik hendaknya tidak membuat seseorang merasa paling baik dibandingkan orang lain. Sebaliknya, seorang Muslim yang ingin menjadi pribadi lebih baik harus terus berusaha memperbaiki diri dan meningkatkan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam Kota Mataram, Hj. Rahmi Kusbandiyah, M.Pd.I, dalam program Renungan Senja di RRI Mataram, Kamis 20 Agustus 2026.
“Kita semua ingin menjadi Muslim terbaik, tapi bukan berarti merasa paling baik. Justru orang yang ingin baik selalu berusaha memperbaiki diri,” ungkap Rahmi.
Menurutnya, ukuran kebaikan seseorang bukan semata-mata dilihat dari banyaknya ilmu maupun harta yang dimiliki. Rasulullah SAW justru menempatkan akhlak sebagai salah satu ukuran utama kebaikan seorang Muslim.
Rasulullah SAW bersabda: Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rahmi menjelaskan, menjadi Muslim yang baik harus dimulai dari kesediaan untuk melihat dan memperbaiki kekurangan diri sendiri. Sering kali seseorang lebih mudah menginginkan orang lain berubah daripada berusaha melakukan perubahan pada dirinya.
Suami, misalnya, ingin istrinya menjadi lebih baik, demikian pula sebaliknya. Anak berharap orang tuanya berubah, sementara orang tua juga menginginkan anak-anaknya menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, perubahan sejati harus dimulai dari diri sendiri.
Hal tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surat Ar-Ra'd ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
“Karena itu, mari kita mulai dari memperbaiki ibadah, ucapan, pergaulan, cara memperlakukan pasangan, cara bertetangga, hingga cara memperlakukan anak. Perubahan besar selalu diawali dengan perubahan kecil,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Rahmi juga mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti orang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut Rahmi, pesan tersebut sangat relevan, termasuk dalam kehidupan di era media sosial. Perbedaan pendapat tidak boleh sampai memutuskan persaudaraan. Setiap Muslim harus menjaga lisan ketika berbicara dan menjaga tangannya saat menggunakan media sosial agar tidak menjadi sarana menyakiti, menghina, maupun menyebarkan keburukan.
Ia menambahkan, jika seseorang ingin dihargai, maka ia juga harus menghargai orang lain. Jika ingin didengarkan, maka ia pun harus bersedia mendengarkan. Begitu pula, jika ingin mendapat pertolongan ketika mengalami kesulitan, seseorang harus belajar hadir dan menolong ketika orang lain membutuhkan.
Rahmi menegaskan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Orang baik bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan orang yang menyadari kesalahannya, bersedia meminta maaf, kembali kepada Allah SWT, dan terus memperbaiki diri serta hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
“Jika ingin dimaafkan, maka kita juga harus bisa memaafkan. Menjadi orang baik membutuhkan keberanian untuk mengakui kesalahan,” ujarnya.
Ia mengajak umat Islam untuk menjadi Muslim yang lebih baik dengan terus memperbaiki diri, menjadi pribadi yang membuat orang lain merasa aman dan dihargai, serta tidak mengejar kesempurnaan, tetapi terus belajar dari setiap kesalahan.
“Jangan sibuk mencari kesalahan. Dengan meminta maaf, memaafkan, menolong, mendengarkan, memperbaiki ibadah, bahkan kembali kepada Al-Qur'an, semoga setiap langkah menghadirkan rida Allah,” tutup Rahmi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....