Sejarah Guling di Indonesia, Dari Masa Kolonial hingga Kebanggaan Bung Karno

  • 04 Agt 2026 15:56 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Guling telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kebiasaan tidur masyarakat Indonesia. Hampir di setiap rumah, benda berbentuk silinder yang biasa dipeluk saat beristirahat itu selalu tersedia. Namun, di balik fungsinya yang sederhana, guling menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan masa kolonial hingga mendapat perhatian khusus dari Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Dalam buku karya jurnalis Amerika Serikat, Cindy Adams, berjudul Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat yang terbit pada 1965, Soekarno pernah menyampaikan kebanggaannya terhadap kebiasaan masyarakat Indonesia menggunakan guling.

"Kamilah satu-satunya bangsa di dunia yang mempunyai sejenis bantal yang digunakan untuk dirangkul," ujar Soekarno sebagaimana dikutip Cindy Adams.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa guling bukan sekadar pelengkap tempat tidur, tetapi telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Indonesia.

Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa guling mulai dikenal di Indonesia pada masa kolonial. Saat itu, benda tersebut dikenal dengan sebutan dutch wife atau "istri Belanda". Sebutan itu muncul karena banyak orang Belanda yang datang ke Hindia Belanda tanpa membawa keluarga mereka. Dalam berbagai literatur populer disebutkan bahwa guling kemudian digunakan sebagai teman tidur yang memberikan rasa nyaman ketika beristirahat di wilayah beriklim tropis.

Meski dikenal dengan istilah dutch wife, sejumlah sumber juga menyebutkan bahwa guling konon mulai diperkenalkan pada masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles. Dalam bahasa Inggris, guling dikenal sebagai bolster.

Sejarah mencatat bahwa Inggris secara resmi menguasai Hindia Belanda pada 1811 melalui Perjanjian Tuntang. Masa pemerintahan Inggris berlangsung hingga 1816, sebelum wilayah tersebut kembali berada di bawah kekuasaan Belanda.

Pada periode tersebut, masyarakat Eropa yang tinggal di Nusantara disebut mulai menggunakan guling sebagai penyesuaian terhadap iklim tropis. Kebiasaan itu kemudian berkembang dan dikenal luas di kalangan masyarakat Hindia Belanda.

Beberapa kajian sejarah juga mengaitkan perkembangan guling dengan kebudayaan Indische pada abad ke-18, yakni hasil percampuran budaya Eropa, Indonesia, dan Tionghoa yang berkembang di Nusantara pada masa kolonial.

Catatan mengenai guling juga muncul dalam buku A Jaunt in Java yang diterbitkan pada 1857. Penulisnya, Abbott, seorang sejarawan asal Amerika Serikat, mengungkapkan kekagumannya terhadap fungsi guling yang dinilai mampu memberikan kenyamanan saat tidur di daerah beriklim tropis.

Menurut Abbott, memeluk guling membuat tubuh terasa lebih sejuk dan nyaman, sehingga sangat sesuai digunakan di wilayah seperti Indonesia yang memiliki suhu hangat hampir sepanjang tahun.

Seiring perkembangan zaman, guling terus mengalami perubahan. Jika dahulu digunakan sebagai penyesuaian terhadap kondisi iklim oleh masyarakat Eropa di Nusantara, kini guling menjadi perlengkapan tidur yang hampir selalu ditemukan di rumah-rumah masyarakat Indonesia. Sebagian besar guling modern diisi dengan kapas atau bahan sintetis yang dirancang untuk memberikan kenyamanan lebih saat beristirahat.

Bagi Soekarno, sebagaimana dikutip Cindy Adams dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (1965), guling bahkan menjadi simbol kebiasaan khas masyarakat Indonesia yang membedakannya dari bangsa lain. Hingga kini, benda sederhana tersebut tetap bertahan sebagai bagian dari budaya tidur masyarakat Indonesia sekaligus menyimpan jejak sejarah yang panjang sejak masa kolonial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....