Kenapa Kondisi Air di Bumi Makin Tak Menentu?
- 21 Sep 2026 14:25 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Musim kemarau sedang terasa di berbagai wilayah Indonesia. Cuaca yang lebih panas, hujan yang jarang turun, hingga berkurangnya ketersediaan air menjadi kondisi yang mulai dirasakan masyarakat. Berdasarkan pemantauan BMKG hingga dasarian pertama September 2026, sekitar 80,7 persen wilayah Indonesia atau 564 Zona Musim sedang mengalami musim kemarau. Sejumlah wilayah juga mengalami hari tanpa hujan dalam waktu yang cukup panjang.
Kondisi tersebut membuat persoalan air terasa semakin dekat. Namun, perubahan ketersediaan air ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia. Laporan terbaru World Meteorological Organization (WMO) menunjukkan siklus air global semakin tidak menentu, dengan pola yang bergerak antara kondisi terlalu sedikit dan terlalu banyak air.
Sungai Dunia Mengalami Kondisi Kering
Dalam laporan State of Global Water Resources 2025, WMO mencatat 2025 menjadi salah satu tahun dengan debit sungai paling kering dalam lebih dari tiga dekade. Aliran di bawah normal terjadi pada sekitar 36 persen wilayah cekungan sungai dunia. Selama tujuh tahun terakhir, jumlah sungai dengan kondisi aliran normal juga menjadi yang paling sedikit sejak 1991.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa persoalan air tidak selalu berarti hujan benar-benar hilang. Ada wilayah yang mengalami kekeringan, sementara tempat lain justru menghadapi hujan ekstrem dan banjir. Siklus air semakin sulit diprediksi dan distribusinya menjadi lebih tidak merata.
“Tabungan Air” Bumi Ikut Berkurang
Air juga tersimpan dalam bentuk yang tidak selalu terlihat, seperti air tanah, danau, sungai, kelembapan tanah, salju, es, serta vegetasi. WMO menyebut penyimpanan air di daratan telah menunjukkan tren penurunan sejak sekitar 2014–2016. Cadangan tersebut sebelumnya berperan seperti tabungan yang membantu menghadapi periode kering.
Gletser juga terus kehilangan massa. Pada 2025, seluruh kawasan gletser utama kembali mengalami kehilangan es untuk tahun keempat berturut-turut. Dalam periode 2023–2025, total kehilangan massa gletser mencapai sekitar 1.400 gigaton air.
Apa Kaitannya dengan Musim Kemarau?
| Baca juga: Cuaca Cerah hingga Berawan |
Kemarau yang sedang berlangsung di Indonesia memang merupakan fenomena regional dan tidak bisa disamakan begitu saja dengan kondisi air global. Namun, pengalaman menghadapi periode kering dapat menjadi gambaran sederhana tentang betapa pentingnya ketersediaan air bagi kehidupan sehari-hari.
BMKG juga mencatat pengaruh El Niño sangat kuat pada September 2026, yang bersama musim kemarau membuat atmosfer Indonesia lebih kering dan meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah. Meski demikian, hujan lokal masih dapat terjadi di beberapa daerah.
Perubahan tersebut mengingatkan bahwa persoalan air bukan hanya tentang apakah Bumi masih memiliki air. Yang tidak kalah penting adalah kapan air tersedia, di mana lokasinya, dan berapa banyak jumlahnya untuk kebutuhan. Kalau pola air terus berubah seperti ini, menurut kamu seperti apa kondisi ketersediaan air di masa depan? (RRI/Aldi W)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....