Pangan Kuat, Masyarakat Tangguh: Dari Sawah NTB Menuju Kedaulatan Indonesia
- 12 Agt 2026 15:27 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Pangan bukan sekadar komoditas pertanian atau angka produksi yang dicatat setiap musim panen. Pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang menentukan kualitas hidup masyarakat dan stabilitas sebuah negara.
“Mungkin dalam sehari seseorang tidak merokok tidak menjadi masalah. Tetapi jika dalam sehari seseorang tidak makan, tentu akan menimbulkan masalah. Orang bisa jatuh sakit dan tidak mampu melakukan aktivitasnya,” kata, Komandan Kodim 1606/Mataram, Kolonel Infanteri Nyarman, M.Tr. (Han), Rabu 12 Agustus 2026 pada Program AKSI Pro 1 RRI Mataram yang membahas ketahanan pangan.
Bagi Kolonel Nyarman, betapa erat hubungan antara pangan dan ketahanan masyarakat. Pasalnya, ketika kebutuhan dasar terpenuhi, masyarakat dapat bekerja, belajar, dan berkontribusi bagi pembangunan. Sebaliknya, ketika pangan terganggu, dampaknya bisa meluas hingga mengganggu keamanan dan stabilitas sosial.
NTB Tetap Menjadi Lumbung Pangan
Di tengah berbagai tantangan global, kondisi pangan di Nusa Tenggara Barat dinilai masih aman dan bahkan mengalami surplus. Menurut Dandim, keberhasilan ini tidak terlepas dari kolaborasi antara Kementerian Pertanian, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan berbagai instansi terkait.
| Baca juga: Produk Lokal Jadi Andalan Program MBG di NTB |
Kolaborasi tersebut memastikan lumbung-lumbung pangan di NTB tetap beroperasi dan berkembang dari tahun ke tahun.
“Lumbung-lumbung pangan di NTB tetap berjalan bahkan menjadi lumbung nasional. Setiap tahun produksinya semakin meningkat dan semakin berkualitas,” katanya.
Predikat NTB sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional bukan diperoleh secara instan. Di baliknya terdapat kerja panjang para petani yang mengolah lahan, dukungan pemerintah, serta pendampingan dari berbagai pihak, termasuk TNI melalui jajaran Kodim dan Babinsa.
Babinsa Hadir Hingga Pelosok Desa
Tak sedikit masyarakat yang bertanya mengapa TNI terlibat dalam program ketahanan pangan. Bagi Kodim 1606/Mataram, jawabannya sederhana: TNI memiliki jaringan hingga tingkat desa melalui Babinsa.
Keberadaan Babinsa memungkinkan program pemerintah dapat menjangkau masyarakat hingga lapisan paling bawah. Mereka bukan hanya hadir menjaga keamanan wilayah, tetapi juga menjadi pendamping bagi petani dalam menghadapi berbagai persoalan di lapangan.
Salah satu contoh nyata adalah upaya meningkatkan produktivitas pertanian melalui pembangunan sumur bor. Di sejumlah wilayah, lahan yang sebelumnya hanya mampu ditanami sekali dalam setahun kini dapat ditanami dua kali.
“Kami membantu petani membuat sumur bor untuk mengairi sawah. Dengan begitu, yang sebelumnya hanya panen sekali dalam setahun bisa menjadi dua kali,” jelasnya.
Langkah sederhana tersebut memberikan dampak besar. Produktivitas meningkat, hasil panen bertambah, dan kesejahteraan petani pun ikut terdorong.
Dari Pupuk Hingga Harga Gabah
Pendampingan Babinsa tidak berhenti pada persoalan irigasi. Mereka juga membantu petani ketika mengalami kesulitan memperoleh pupuk.
Melalui koordinasi dengan instansi terkait, distribusi pupuk dapat dipantau agar tepat sasaran dan kebutuhan petani dapat terpenuhi. Hal ini penting karena pupuk merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan produksi pertanian.
Selain itu, perhatian juga diberikan pada aspek pemasaran hasil panen. Sebelum adanya program pendampingan, banyak petani menjual gabah dengan harga rendah yang tidak sebanding dengan biaya produksi dan perawatan tanaman.
Kini kondisi tersebut mulai berubah. Harga gabah petani dijual sesuai standar yang ditetapkan sehingga petani memperoleh keuntungan yang lebih layak.
“Petani sekarang mendapatkan harga yang sewajarnya dan tidak merugikan mereka,” ungkap Dandim.
Perubahan ini menjadi angin segar bagi para petani yang selama ini kerap berada pada posisi lemah dalam rantai distribusi hasil pertanian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....