Disperpan Bintuni Siapkan Buku Cerita Rakyat Tujuh Suku

  • 08 Sep 2026 16:53 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Bintuni – Upaya menyelamatkan cerita rakyat dari ancaman kepunahan terus dilakukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Disperpan) Kabupaten Teluk Bintuni. Sebanyak 14 naskah cerita rakyat dari tujuh suku asli Teluk Bintuni berhasil lolos seleksi awal dan akan dibedah dalam workshop penulisan yang digelar pada 23–25 September 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pelestarian budaya daerah melalui pendokumentasian cerita-cerita rakyat yang selama ini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.

Kepala Bidang Perpustakaan Disperpan Teluk Bintuni, Robert I. Parantean, mengatakan panitia menerima 32 artikel cerita rakyat sejak pendaftaran dibuka hingga ditutup. Setelah melalui proses kurasi, sebanyak 14 naskah dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti workshop bersama praktisi literasi.

“Sebanyak 14 naskah telah lolos kurasi tahap pertama. Selebihnya, 18 naskah masih belum lolos karena sejumlah catatan dari panitia dan kurator,” kata Robert, Senin (7/9/2026).

Empat belas penulis yang lolos kurasi tersebut yakni Ronald Fandi Frabun, Glorina Ferdinanda Awak, Andris Kristiono, Dewi Julita Pakpahan, Firna Hahury, Nova Astrid Pattiasina, Tantowi Djauhari, Septon Asmuruf, Katharina Ernesta Londa, Hasnah, Florida Mabaha, George Orolaleng, Joko Royanto, dan Ferdinandus Usfinit.

Robert menjelaskan, sejumlah naskah belum dapat lolos karena terkendala beberapa persyaratan, mulai dari keterlambatan pengumpulan, jumlah kata yang belum memenuhi ketentuan, hingga adanya indikasi plagiasi dan penggunaan kecerdasan buatan (AI) melebihi batas yang ditetapkan panitia.

Naskah yang lolos akan mengikuti workshop dan bedah naskah guna meningkatkan kualitas tulisan sebelum diterbitkan dalam bentuk buku.

“Dari artikel yang terpilih nantinya akan dicetak menjadi sebuah buku dan diterbitkan sebagai aset Dinas Perpustakaan dan Kearsipan untuk dinikmati masyarakat secara luas,” ujarnya.

Menurut Robert, penerbitan buku cerita rakyat menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya tujuh suku Teluk Bintuni. Ia berharap naskah yang belum lolos tetap dapat dikembangkan dan diterbitkan pada edisi berikutnya.

“Harapan saya, 18 artikel yang belum lolos kurasi dapat tetap dititipkan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan untuk diprogramkan dalam penerbitan buku cerita rakyat edisi kedua,” katanya.

Ia menambahkan, dokumentasi cerita rakyat dalam bentuk buku penting dilakukan agar nilai-nilai budaya dan sejarah lokal tidak hilang ditelan zaman.

“Kalau hanya diceritakan secara lisan, lama-lama warisan budaya leluhur ini bisa punah ketika para tokoh adat maupun tokoh masyarakat yang memiliki cerita itu sudah tidak ada lagi,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....