Berusia 58 Tahun, Solamer Taklukkan Lomba 7K tanpa Alas Kaki

  • 14 Agt 2026 10:11 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Bintuni – Deru napas berat terdengar dari tenda medis di Gelanggang Argosigemerai SP 5, Kamis 13 Agustus 2026. Seorang pria berusia 58 tahun tampak berbaring kelelahan setelah menuntaskan lomba lari sejauh tujuh kilometer dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Teluk Bintuni.

Pria itu adalah Solamer Bauw, peserta kategori lansia putra yang menarik perhatian banyak orang karena berlari tanpa alas kaki sejak garis start di SP 4 hingga mencapai garis finis. Keringat membasahi wajahnya. Napasnya masih tersengal. Namun di balik kelelahan itu tersimpan rasa bangga. Solamer baru saja mengukir prestasi dengan meraih juara kedua kategori lansia putra, mengalahkan banyak peserta lain yang lebih muda.

Bagi sebagian orang, berlari sejauh tujuh kilometer tanpa sepatu mungkin terdengar mustahil. Namun bagi Solamer, tanah dan jalanan yang dipijaknya bukanlah hal asing.

"Kalau pakai sepatu kaki terasa panas dan bisa lecet. Saya lebih nyaman lari tanpa alas kaki. Tidak sakit, malah lebih enak," ujar Solamer sambil tersenyum setelah kondisinya mulai pulih.

Tidak ada program latihan khusus. Tidak ada perlengkapan olahraga mahal. Bahkan pagi sebelum lomba dimulai, Solamer hanya meminum air putih.

Menurutnya, tubuh yang ringan menjadi kunci untuk menyelesaikan lintasan yang cukup panjang.

"Saya tidak sarapan makan, hanya minum air putih supaya badan terasa ringan saat berlari," katanya.

Meski baru pertama kali mengikuti lomba lari resmi, pengalaman hidupnya sejak muda ternyata menjadi modal berharga. Bertahun-tahun berburu di hutan, berenang di sungai, dan berjalan jauh mencari ikan telah membentuk ketahanan fisik yang masih terjaga hingga kini.

Kenangan masa muda itu seolah kembali hidup saat ia berlari bersama ratusan peserta lainnya.

"Dulu saya sering berburu rusa di hutan, lari dan berenang. Mungkin itu yang membuat saya masih kuat sampai sekarang. Latihan saya memang dari alam, bukan dari lomba-lomba di kota," tuturnya.

Ayah dari lima anak dan kakek tiga cucu itu mengaku mengikuti perlombaan sebagai bagian dari semangat kebersamaan sekaligus membawa nama Suku Sebyar yang diwakilinya dalam ajang tersebut.

Kisah Solamer menjadi gambaran bahwa usia bukanlah penghalang untuk tetap aktif dan berprestasi. Di tengah semarak perayaan kemerdekaan, ia menunjukkan bahwa semangat pantang menyerah dapat tumbuh dari pengalaman hidup sederhana.

Sementara itu, Koordinator Juri Lomba Lari 7 Kilometer, Dorkas Adolfina Ndun, mengatakan antusiasme masyarakat terhadap perlombaan tahun ini sangat tinggi. Peserta berasal dari berbagai kelompok usia, mulai kategori umum hingga lansia.

Untuk menjaga sportivitas, panitia menurunkan puluhan petugas yang terdiri dari juri tempel, petugas pencatat waktu, juri penanda jalur, hingga petugas penyedia air minum di beberapa titik lintasan.

"Kami ingin memastikan lomba berlangsung jujur, tertib, dan semua peserta mendapatkan pelayanan yang baik selama perlombaan," kata Dorkas.

Bagi sebagian peserta, lomba ini mungkin hanya bagian dari rangkaian perayaan HUT RI. Namun bagi Solamer Bauw, tujuh kilometer yang ditempuh dengan kaki telanjang menjadi perjalanan yang membuktikan bahwa semangat tidak pernah mengenal usia.

Di usia yang hampir enam dekade, langkahnya mungkin tidak lagi secepat dulu. Namun tekadnya masih berlari kencang, melampaui batas yang sering kali dibuat oleh usia itu sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....