Pelabuhan Babo Dibangun, Bupati Dorong Mess BP Ditutup agar Ekonomi Warga Bergerak
- 07 Agt 2026 06:03 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Bintuni – Prosesi Ground Breaking atau Peletakan batu pertama Pelabuhan Babo pada Rabu, 5 Agustus 2026, bukan hanya menandai pembangunan infrastruktur, tetapi juga membuka harapan besar bagi kebangkitan ekonomi warga. Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, dalam kesempatan itu menyampaikan aspirasi yang cukup tegas yaitu mendesak penutupan permanen mess karyawan milik BP Tangguh dan mengalihkan para karyawan untuk menggunakan jasa penginapan milik masyarakat setempat.
“Mess BP ditutup saja. Selama ini karyawan terlalu eksklusif. Kita ingin mereka tinggal di penginapan warga, supaya ada efek singgah. Kalau langsung masuk mess, tidak ada yang berbelanja. Perputaran ekonomi tidak jalan,” Ucap Bupati Yohanis Manibuy.
Menurutnya, Pelabuhan Babo adalah kawasan strategis bagi denyut nadi roda perputaran ekonomi bagi daerah pesisir, khususnya Babo Raya, yang harus menjadi pengungkit pertumbuhan. Karena itu, seluruh aset dan fasilitas di sekitar pelabuhan perlu ditata ulang agar benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
Distrik Babo, kata Bupati, memiliki potensi besar. Kawasan yang selama ini tertutup untuk kegiatan BP Tangguh dinilai bisa dibuka menjadi ruang usaha dan meningkatkan sektor jasa bagi penggunaan penginapan, rumah makan, hingga jasa-jasa penunjang lainnya.
“Jika mess itu bisa ditutup, kita buka ruang ekonomi baru. Biar roda ekonomi berputar di Babo, bukan hanya lewat di atas kertas,”Tegasnya.
Bupati juga menyoroti soal status aset, yakni kawasan dermaga jetty dan lahan yang digunakan merupakan aset milik pemerintah daerah, maka pihaknya akan mengkaji untuk menarik kembali pemanfaatannya. Bupati mengatakan bahwa belum ada kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) daerah Teluk Bintuni.
“Saya pikir kalau itu aset daerah, kita tarik kembali. Kita ingin buat sesuatu yang baik untuk masyarakat Babo,”Ucap Bupati Tegas.
Aspirasi ini mendapat dukungan dari Anggota DPR RI Komisi XII, Alfons Manibuy. Ia menyatakan akan membawa usulan tersebut ke pembahasan bersama KSO di Jakarta.
“Ini bukan hal baru. Dulu sudah pernah kita suarakan. Mungkin untuk masa lalu prinsip eksklusif masih bisa dimaklumi. Tapi untuk kemajuan Babo ke depan, sudah saatnya kita ubah menjadi inklusif,” kata Alfons.
Bagi Alfons, membuka akses kawasan berarti membuka peluang terjadinya perputaran ekonomi baru. Efeknya, tidak hanya dirasakan pelaku UMKM, tetapi juga menggerakkan ekonomi kawasan secara menyeluruh.
Ground Breaking Pelabuhan Babo menjadi titik awal dan harapan yang jelas yaitu konektivitas menguat, jasa-jasa lokal hidup, dan masyarakat di Distrik Babo menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....