BMKG: Suhu Panas di Manokwari Bukan Gelombang Panas, Warga Diimbau Waspada El Nino
- 09 Jul 2026 14:10 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari – Kondisi suhu panas yang terjadi belakangan ini khususnya di wilayah Papua Barat bukan gelombang panas (heatwave) seperti yang terjadi di sejumlah negara di Eropa.
Meski suhu udara terasa lebih terik, kondisi tersebut dipengaruhi oleh karakteristik iklim tropis Indonesia dan dampak fenomena El Nino. Yang sedang terjadi saat ini.
Wendel, Prakirawan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika- BMKG Manokwari Papua Barat menjelaskan, gelombang panas umumnya terjadi akibat massa udara panas yang terperangkap selama beberapa hari oleh sistem tekanan tinggi yang sangat luas. Sementara itu, Indonesia yang berada di wilayah tropis dan dikelilingi lautan memiliki karakteristik cuaca yang lebih dinamis sehingga peningkatan suhu lebih banyak dipengaruhi oleh berkurangnya tutupan awan dan rendahnya curah hujan.
Di Papua Barat, khususnya Manokwari, wilayah ini diperkirakan mulai memasuki musim kemarau hingga akhir 2026. Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, suhu tertinggi yang tercatat selama Juni 2026 mencapai 35,7 derajat Celsius. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan fenomena El Nino berkategori sedang yang diperkirakan mengarah ke fase kuat, sehingga berdampak pada penurunan curah hujan akibat berkurangnya tutupan awan.
"Masyarakat akan merasakan suhu yang lebih panas, namun kondisi tersebut tidak serta-merta merupakan gelombang panas. El Nino lebih berpengaruh terhadap berkurangnya curah hujan, meskipun tetap meningkatkan suhu udara," Kata Wendel .
Ia mengingatkan, kondisi El Nino tidak hanya berdampak pada sektor cuaca, tetapi juga kesehatan masyarakat. Risiko dehidrasi, mudah lelah, hingga menurunnya konsentrasi lebih rentan dialami oleh kelompok lansia dan anak-anak. Selain itu, musim kering juga dapat memengaruhi ketersediaan air bersih, kelembapan tanah, serta produktivitas sektor pertanian dan perkebunan.
Maka masyarakat diimbau agar mencukupi kebutuhan cairan tubuh, mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan pada siang hingga sore hari, serta menggunakan pelindung seperti topi, payung, dan tabir surya saat beraktivitas di luar rumah. BMKG juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara bijak, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta terus memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG, karena hujan, petir, dan angin kencang masih berpotensi terjadi meski telah memasuki musim kemarau.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....