SLI BMKG Papua Barat Perkuat Literasi Iklim Petani

  • 16 Feb 2026 11:34 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari - Program Sekolah Lapang Iklim (SLI) merupakan program nasional BMKG yang telah lama dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terkait informasi iklim. Program ini disebut sekolah karena terdapat proses pembelajaran, mulai dari mengenal perbedaan cuaca dan iklim, unsur-unsur cuaca dan iklim, penggunaan alat, hingga cara memahami informasi iklim yang disampaikan BMKG.

Hal ini disampaikan oleh Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Muda BMKG Rendani Manokwari, Femmy Marsitha, dalam podcast bersama RRI. SLI umumnya menyasar langsung para petani. Peserta ditargetkan dari kalangan petani agar informasi iklim yang diberikan dapat langsung dimanfaatkan dalam kegiatan pertanian dan membantu pengambilan keputusan di lapangan.

Sebelum pelaksanaan SLI, BMKG terlebih dahulu melakukan survei untuk melihat kondisi serta kebutuhan petani, baik dari sektor tanaman pangan maupun hortikultura. Hal ini dilakukan agar pelaksanaan kegiatan dan materi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan petani di wilayah sasaran.

“Dari papua barat yang sudah melakukan SLI dari Staklim atau stasiun Klimatologi Papua Barat yang terletak Di Arfai, kami membidangi SLI se provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya sejauh ini kami sudah melaksanakan sebanyak 7 kali SLI. Setiap tahun mulai dari tahun 2018 sampai dengan 2025,” jelasnya.

Sementara itu, Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Pertama BMKG Rendani Manokwari, Rosita Rakhim, menyampaikan bahwa perubahan iklim merupakan fenomena nyata yang terjadi secara nasional maupun global. Tahun 2023 bahkan tercatat sebagai tahun terpanas, dan dalam 30 tahun terakhir kenaikan suhu secara nasional maupun global telah mencapai sekitar 1,5 derajat. Di Papua Barat sendiri, dalam 10 tahun terakhir suhu meningkat sekitar 0,2 hingga 0,6 derajat akibat berbagai aktivitas manusia seperti transportasi, emisi gas rumah kaca, penebangan pohon, serta pembakaran sampah yang memperparah pemanasan atmosfer.

“Kenaikan dan penurunan curah hujan berpotensi langsung terhadap kenaikan dan penurunan hama, jadi sangat dibutuhkan sekali informasi dari bmkg terkait bagaimana jumlah curah hujan dalam satu bulan atau bagiaman prakiraannya sehingga informasi ini dapat membantu petani apabila curah hujan tinggi apakah kelembapannya juga tinggi atau apakah menambah OPT atau mengurangi OPT,” kata Rosita.

Rosita menegaskan pentingnya informasi iklim bagi sektor pertanian. Perubahan iklim berdampak pada berbagai sektor, salah satunya pertanian, karena berpotensi memicu bencana seperti kekeringan maupun banjir yang merusak lahan dan tanaman pangan hingga menyebabkan gagal panen.

Karena itu, SLI menekankan literasi dan edukasi iklim, termasuk mendorong interaksi antarpetani pangan dan hortikultura untuk saling berbagi informasi. Dalam kegiatan SLI juga dilakukan penyampaian materi produk Stasiun Klimatologi Papua Barat, seperti interpretasi peta curah hujan dan musim, serta praktik memahami informasi BMKG agar peserta mampu membaca dan memanfaatkan informasi iklim secara mandiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....