Harapan Pedagang Takjil di Bulan Ramadan
- 20 Feb 2026 21:19 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari - Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di kawasan Wosi, Manokwari, tampak semakin ramai. Deretan lapak sederhana berdiri di tepi jalan, menawarkan aneka takjil yang menggoda selera. Aroma kolak, gorengan hangat, hingga minuman segar berpadu dengan hiruk-pikuk pembeli yang datang silih berganti. Di balik ramainya aktivitas itu, tersimpan cerita perjuangan para pedagang kecil yang menggantungkan harapan di bulan suci Ramadan.
Salah satunya adalah Zumrah, penjual minuman segar yang setiap sore setia menata dagangannya di atas meja lipat. Beragam minuman warna-warni seperti es buah, es kelapa, dan sirup menjadi andalannya menarik perhatian pembeli. Di tengah kondisi ekonomi yang menurutnya “tidak baik-baik saja”, ia memilih tetap berjualan demi menyambung hidup.
| Baca juga: Menjaga Pandangan di Bulan Ramadan |

“Sekarang kebutuhan makin banyak, harga-harga juga naik. Mau tidak mau harus tetap usaha. Saya berharap dari jualan ini bisa dapat keuntungan untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ungkap Zumrah sambil melayani pembeli.
Baginya, Ramadan bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga momentum untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Meski keuntungan tak selalu besar, ia bersyukur setiap gelas minuman yang terjual menjadi tambahan rezeki. Senyum ramahnya tak pernah lepas, seolah menjadi doa agar dagangannya laris hingga akhir bulan suci.
Di sisi lain, ada Ibu Selvi yang berjualan aneka takjil khas Ramadan. Meja dagangannya dipenuhi kolak pisang, bubur kacang hijau, pastel, risoles, hingga aneka kue manis yang menggugah selera. Ia mengaku berjualan bukan semata mencari keuntungan, tetapi juga ingin ikut meramaikan suasana Ramadan di Wosi.

“Ramadan itu setahun sekali. Saya senang bisa ikut meramaikan. Harapannya bukan cuma dagangan saya yang laku, tapi semua pedagang di sini juga laris supaya sama-sama merasakan berkah Ramadan,” tuturnya.
Bagi Ibu Selvi, kebersamaan antar pedagang menjadi kekuatan tersendiri. Mereka saling menyemangati, berbagi cerita, bahkan sesekali bertukar pembeli ketika stok salah satu menu habis. Di tengah persaingan, ada rasa solidaritas yang tumbuh karena sama-sama berjuang di bulan penuh ampunan.
Senja pun perlahan turun di Wosi. Satu per satu takjil mulai habis terjual. Di balik setiap transaksi kecil yang terjadi, tersimpan harapan besar akan kehidupan yang lebih baik. Ramadan di Wosi bukan hanya tentang berbuka puasa, tetapi juga tentang keteguhan hati para pedagang kecil yang terus berikhtiar, percaya bahwa setiap usaha akan berbuah berkah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....