Gejala Mirip Autisme karena Menatap Layar Gadget Berlebihan

  • 19 Sep 2026 12:05 WIB
  •  Manokwari

RRI CO.ID, Manokwari – Di era digital, penggunaan gadget pada anak usia dini semakin sulit dihindari. Namun, para ahli tumbuh kembang anak mengingatkan bahwa paparan layar yang berlebihan dapat memunculkan gejala yang menyerupai autisme, sebuah kondisi yang kerap disebut sebagai pseudo-autism atau "autisme virtual".

Istilah ini merujuk pada kondisi ketika anak menunjukkan gangguan interaksi sosial, keterlambatan bicara, dan minim respons terhadap lingkungan akibat kurangnya stimulasi sosial serta terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar. Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa pseudo-autism bukan diagnosis medis resmi seperti Autism Spectrum Disorder (ASD).

Dalam publikasi JAMA Pediatrics, sejumlah peneliti menemukan bahwa paparan layar berlebihan pada usia dini berkaitan dengan meningkatnya risiko keterlambatan perkembangan bahasa, kemampuan komunikasi, dan keterampilan sosial anak. Kondisi tersebut dapat membuat gejalanya tampak mirip dengan gangguan spektrum autisme.

Salah satu tanda yang sering dikeluhkan orang tua adalah anak tidak merespons saat namanya dipanggil. Padahal, hasil pemeriksaan pendengaran menunjukkan fungsi pendengaran anak normal. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), anak yang terlalu sering terpapar media digital dapat mengalami berkurangnya perhatian terhadap interaksi sosial di dunia nyata karena otaknya lebih terbiasa menerima stimulasi dari layar.

Gejala lain yang sering muncul adalah minimnya kontak mata. Dalam perkembangan normal, anak belajar mengenali ekspresi wajah, emosi, dan komunikasi melalui tatap muka dengan orang tua maupun lingkungan sekitar. Ketika sebagian besar waktu dihabiskan bersama gadget, kesempatan untuk melatih kemampuan tersebut menjadi jauh berkurang.

Keterlambatan bicara juga menjadi salah satu keluhan yang paling sering ditemukan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa kemampuan bahasa berkembang melalui interaksi dua arah. Anak perlu mendengar, memahami, dan merespons percakapan secara langsung. Sebaliknya, tontonan digital umumnya hanya memberikan rangsangan satu arah tanpa mengharuskan anak untuk berkomunikasi.

Meski gejalanya dapat menyerupai autisme, para ahli menekankan bahwa pseudo-autism berbeda dengan Autism Spectrum Disorder yang merupakan gangguan perkembangan saraf dengan berbagai faktor biologis dan genetik. Pada beberapa kasus, gejala yang dipicu oleh paparan layar berlebihan dapat membaik setelah penggunaan gadget dikurangi dan anak mendapatkan stimulasi sosial yang memadai.

Publikasi dari World Health Organization (WHO) bahkan merekomendasikan agar anak di bawah usia dua tahun tidak terpapar layar sama sekali, sementara anak usia dua hingga lima tahun sebaiknya dibatasi maksimal satu jam per hari dengan pendampingan orang tua.

Para dokter tumbuh kembang menyarankan orang tua untuk memperbanyak aktivitas bermain bersama, membacakan buku, mengajak anak berbicara, bernyanyi, serta memberikan kesempatan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Aktivitas sederhana tersebut terbukti lebih efektif dalam mendukung perkembangan bahasa dan sosial dibandingkan hiburan pasif melalui gadget.

Jika anak menunjukkan gejala seperti tidak merespons saat dipanggil, keterlambatan bicara, minim kontak mata, atau tampak lebih tertarik pada layar dibandingkan berinteraksi dengan orang lain, orang tua dianjurkan berkonsultasi dengan dokter spesialis anak atau klinik tumbuh kembang untuk mendapatkan evaluasi yang tepat.

Gadget bukanlah musuh. Namun, penggunaan yang tidak terkontrol pada usia dini dapat menghambat proses belajar alami yang dibutuhkan otak anak untuk berkembang secara optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....