Ingin Astaxanthin Alami? Coba Konsumsi Makanan Ini

  • 15 Sep 2026 09:17 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari - Astaxanthin mungkin belum terlalu familiar di telinga masyarakat. Padahal, senyawa yang termasuk dalam kelompok karotenoid ini secara alami dapat ditemukan dalam sejumlah makanan, terutama ikan dan makanan laut. Astaxanthin dikenal sebagai pigmen berwarna merah-oranye yang memiliki aktivitas antioksidan. Pigmen inilah yang turut memberikan warna kemerahan pada daging salmon. Selain salmon, astaxanthin juga dapat ditemukan pada udang, kepiting, dan lobster.

Menariknya, warna merah pada makanan laut tersebut tidak hanya muncul karena proses memasak. Astaxanthin memang merupakan salah satu pigmen alami yang terdapat pada hewan-hewan laut tersebut. Kandungannya dapat berasal dari makanan yang mereka konsumsi di lingkungan perairan. Selain dari makanan laut, astaxanthin juga terdapat secara alami pada mikroalga, salah satunya Haematococcus pluvialis. Mikroalga ini bahkan menjadi salah satu sumber astaxanthin yang banyak digunakan dalam pembuatan suplemen.

Bagi orang yang sudah memasuki usia 30 tahun, mengonsumsi astaxanthin sebenarnya tidak harus selalu melalui suplemen. Pola makan yang beragam dan bergizi tetap menjadi dasar utama untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Mengonsumsi ikan dan makanan laut dalam jumlah yang sesuai dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendapatkan berbagai zat gizi, termasuk senyawa antioksidan.

Namun, perlu diingat bahwa kandungan astaxanthin dalam makanan tidak selalu sama. Jumlahnya dapat dipengaruhi oleh jenis makanan, sumbernya, hingga cara pengolahan. Karena itu, konsumsi makanan yang mengandung astaxanthin tidak dapat disamakan begitu saja dengan dosis astaxanthin dalam suplemen.

Jadi, bagi yang ingin mendapatkan astaxanthin secara alami, tidak perlu terburu-buru membeli suplemen. Salmon, udang, kepiting, dan lobster dapat menjadi bagian dari pilihan makanan. Yang terpenting adalah menjaga pola makan tetap beragam, seimbang, dan sesuai kebutuhan tubuh.

Sumber: National Institutes of Health atau NIH, U.S. Food and Drug Administration atau FDA, serta berbagai publikasi ilmiah mengenai astaxanthin dan Haematococcus pluvialis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....