Menjaga Kesehatan Mental di tengah Padatnya Aktivitas Digital

  • 24 Jul 2026 17:43 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari - Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat belajar, bekerja, dan berinteraksi. Meski memberikan banyak kemudahan, penggunaan teknologi yang berlebihan juga dapat berdampak pada kesehatan mental, terutama bagi remaja dan generasi muda.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyebut kesehatan mental merupakan kondisi ketika seseorang mampu mengelola stres, bekerja secara produktif, serta berperan aktif dalam kehidupan sosial. Namun, tekanan akibat aktivitas digital yang tinggi, seperti paparan informasi tanpa henti, penggunaan media sosial secara berlebihan, hingga tuntutan untuk selalu terhubung, dapat memicu stres dan kecemasan.

Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), sekitar 34,9 persen remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Data tersebut menunjukkan pentingnya meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental sejak usia muda.

Kemenkes mengimbau masyarakat untuk mengenali tanda-tanda awal gangguan kesehatan mental, seperti perasaan sedih yang berlangsung lama, sulit berkonsentrasi, kehilangan minat terhadap aktivitas yang disukai, gangguan tidur, hingga mudah merasa cemas atau lelah. Jika kondisi tersebut mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Selain itu, menjaga kesehatan mental juga dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana. Mengatur waktu penggunaan gawai, membatasi aktivitas di media sosial, berolahraga secara rutin, tidur yang cukup, serta meluangkan waktu bersama keluarga dan teman dapat membantu menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan kehidupan sehari-hari.

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) juga mendorong masyarakat untuk menerapkan digital wellness, yaitu menggunakan teknologi secara bijak agar tidak berdampak negatif terhadap kesehatan fisik maupun psikologis.

Menjaga kesehatan mental merupakan tanggung jawab bersama. Dengan meningkatkan kesadaran, mengurangi stigma, dan tidak ragu mencari bantuan sejak dini, generasi muda diharapkan mampu menghadapi tantangan di era digital dengan lebih sehat, produktif, dan tangguh.

Sumber:

  • Kementerian Kesehatan RI.
  • Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS).
  • Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK).
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....