Ilmuwan Tiru Kamuflase Gurita untuk Masa Depan Bioteknologi

  • 19 Nov 2025 13:40 WIB
  •  Manokwari

KBRN, Manokwari: Dilansir dari Sci Tech Daily, pada kedalaman laut, seekor gurita dapat menghilang seolah menyatu dengan pasir, batu, atau terumbu karang. Kemampuannya berubah warna dalam sekejap bukanlah sihir, melainkan kerja cerdas pigmen alami bernama xanthommatin.

Kini, kemampuan menakjubkan itu tidak lagi terbatas pada makhluk laut. Para peneliti di University of California San Diego berhasil meniru dan memproduksi pigmen tersebut di laboratorium, membuka peluang baru di dunia bioteknologi.

Selama bertahun-tahun, ilmuwan berusaha menyalin rahasia kamuflase gurita, tetapi xanthommatin terlalu rumit untuk dibuat dalam skala besar. Terobosan terjadi ketika mereka memodifikasi bakteri sehingga hanya bisa bertahan hidup jika mampu menghasilkan pigmen tersebut.

Dengan cara ini, bakteri berubah menjadi “pabrik alami” yang memproduksi xanthommatin 1.000 kali lebih banyak dibanding metode sebelumnya. Produksi yang awalnya hanya miligram kini meningkat menjadi beberapa gram per liter, sebuah lompatan besar dalam riset biomaterial.

Lebih menarik lagi, penelitian ini menggunakan sistem evolusi otomatis, memungkinkan robot laboratorium menemukan mutasi bakteri yang membuat produksi pigmen semakin efisien. Proses yang biasa memakan waktu bertahun-tahun kini bisa dipangkas hanya dalam hitungan minggu.

Hasilnya adalah pigmen yang stabil, dapat diproduksi massal, dan cocok untuk berbagai aplikasi dari cat yang berubah warna, material cerdas, hingga sunscreen alami berbasis biologi.

Bagi Indonesia, terobosan ini memiliki relevansi penting. Sebagai negara maritim dengan kekayaan alam laut yang besar, teknologi berbasis pigmen alami dapat dimanfaatkan untuk penelitian bioteknologi laut, pengembangan kosmetik herbal, hingga material militer yang ramah lingkungan.

Industri tekstil dan fesyen juga berpotensi mengadopsi pigmen ini untuk membuat bahan yang responsif terhadap cahaya sebuah inovasi yang sejalan dengan tren industri kreatif nasional. Bahkan, sektor pariwisata dan konservasi dapat memanfaatkan riset ini untuk edukasi biodiversitas laut tanpa harus mengambil organisme dari alam.

Lebih jauh, teknologi ini menunjukkan bahwa inspirasi dari laut dapat menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih hijau. Dengan produksi pigmen yang berbasis mikroba, dunia dapat mengurangi ketergantungan pada pewarna kimia berbahan fosil.

Jika Indonesia terus mengembangkan riset kelautan dan biologi sintetis, bukan mustahil negeri ini menjadi salah satu pusat inovasi bioteknologi berbasis ekosistem laut tropis. Dari kemampuan gurita menyamar, lahirlah peluang baru: menyatukan sains, lingkungan, dan masa depan industri secara lebih berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....