Kisah Buku Diary yang Mulai Terlupakan di Era Digital

  • 18 Apr 2026 10:28 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari- Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, kebiasaan menulis di buku harian atau Buku Diary mulai ditinggalkan, terutama oleh generasi muda. Padahal, diary pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari sebagai tempat menuangkan perasaan dan pengalaman pribadi.

Perubahan ini tidak lepas dari hadirnya ponsel pintar dan media sosial yang menawarkan kemudahan dalam berbagi cerita secara instan. Kini, banyak orang lebih memilih mengekspresikan diri melalui unggahan di platform digital dibandingkan menulis secara manual di atas kertas.

Meski terlihat praktis, kebiasaan berbagi di media digital memiliki perbedaan dengan menulis diary. Diary memberikan ruang pribadi yang lebih bebas dan jujur, tanpa tekanan dari penilaian orang lain. Sementara itu, unggahan di media sosial sering kali disesuaikan dengan citra yang ingin ditampilkan kepada publik.

Selain itu, diary juga memiliki nilai emosional yang lebih kuat. Tulisan tangan, coretan, hingga jejak waktu yang tersimpan di dalamnya menjadi bagian dari kenangan yang tidak tergantikan. Hal ini membuat diary memiliki keunikan tersendiri dibandingkan catatan digital.

Sejumlah pengamat juga menilai bahwa menulis diary dapat membantu menjaga kesehatan mental. Kegiatan ini memungkinkan seseorang untuk mengekspresikan emosi, mengurangi stres, dan memahami diri sendiri dengan lebih baik.

Meski demikian, keberadaan diary di era digital tidak sepenuhnya hilang. Sebagian orang masih mempertahankan kebiasaan ini sebagai bentuk refleksi diri di tengah kesibukan dan arus informasi yang cepat.

Dengan segala perubahan yang terjadi, buku diary tetap memiliki tempat tersendiri. Di tengah dunia yang serba digital, diary menjadi pengingat bahwa tidak semua hal harus dibagikan, dan tidak semua cerita harus dilihat orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....