Review Ghost in the Cell Film Joko Anwar
- 26 Mei 2026 11:39 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari: Film Ghost in the Cell adalah karya terbaru sutradara Indonesia Joko Anwar yang dirilis pada 16 April 2026 di bioskop Indonesia. Film ini menggabungkan genre horor, komedi, dan satir sosial, dengan latar utama sebuah penjara berkeamanan tinggi yang berubah menjadi arena teror misterius.
Cerita berpusat pada Dimas, seorang mantan jurnalis yang dipenjara atas tuduhan pembunuhan atasannya. Di dalam penjara, ia mendapati kejadian aneh: para narapidana mulai meninggal satu per satu dengan cara yang tidak wajar. Situasi ini memaksa para tahanan untuk bekerja sama mengungkap sumber teror yang diduga berasal dari kekuatan supranatural.
Menurut ulasan media, film ini menampilkan kisah “kematian misterius di dalam penjara yang disertai unsur horor sekaligus komedi gelap” serta dibalut kritik sosial terhadap sistem kekuasaan dan korupsi.
Salah satu kekuatan utama Ghost in the Cell adalah pendekatannya yang memadukan hiburan genre dengan pesan sosial. Penjara dalam film ini tidak hanya menjadi latar fisik, tetapi juga metafora dari sistem sosial yang lebih luas.
Beberapa kritik menyebut film ini sebagai “miniatur negara” yang penuh politik, kepentingan, dan ketimpangan kekuasaan . Melalui pendekatan tersebut, Joko Anwar kembali menegaskan ciri khasnya menggabungkan genre populer dengan kritik sosial yang tajam.
Selain itu, film ini juga dikenal karena gaya penyutradaraannya yang “liar dan berani”, dengan perpaduan adegan gore, komedi absurd, hingga momen emosional yang tidak terduga.
| Baca juga: Rekomendasi drakor kerajaan modern terkini |
Film ini dibintangi sejumlah aktor papan atas Indonesia, termasuk Endy Arfian sebagai Dimas, Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Aming Sugandhi, serta ensemble cast lainnya seperti Tora Sudiro dan Rio Dewanto.
Film ini mendapatkan beragam respons dari kritikus maupun penonton. Di satu sisi, banyak yang memuji keberanian film ini dalam menggabungkan horor brutal dengan komedi satir. Di sisi lain, beberapa kritik menilai bahwa penyampaian pesan sosialnya terlalu “langsung” atau eksplisit.
Namun secara umum, film ini dipandang sebagai karya yang ambisius dan unik dalam perfilman Indonesia modern. Beberapa ulasan bahkan menyebutnya sebagai salah satu karya Joko Anwar yang paling berani dalam mengeksplorasi genre dan gaya narasi
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....