Menelusuri Jejak dan Asal Usul Tradisi Maulid Nabi di Indonesia

  • 25 Agt 2026 16:58 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari- Tradisi peringatan Maulid Nabi di Indonesia bermula dari strategi dakwah para wali dan ulama pada masa kerajaan Islam untuk memperkenalkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya lokal. Hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiulawal ini dirayakan dengan penuh suka cita oleh umat Islam di berbagai pelosok Nusantara.

Dikutip dari BAZNAS, secara historis global, akar perayaan Maulid Nabi memiliki beberapa versi catatan sejarah. Sejumlah sejarawan mencatat tradisi ini pertama kali digagas secara luas pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir atau diperkuat oleh penguasa Irbil, Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri, untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah. Tradisi tersebut kemudian menyebar luas ke berbagai penjuru dunia Islam, termasuk wilayah Asia Tenggara.

Masuknya tradisi Maulid ke Indonesia diperkirakan berkembang sejak era Wali Songo sekitar abad ke-14 atau ke-15 masehi. Para penyebar agama Islam di Pulau Jawa menggunakan momentum hari lahir Nabi sebagai sarana menarik simpati masyarakat. Pada masa itu, perayaan tersebut kerap diasosiasikan dengan penyebaran nilai-nilai syahadat sehingga dikenal pula sebagai perayaan syahadatin.

Seiring berjalannya waktu, perayaan ini mengalami akulturasi budaya yang sangat erat dengan kearifan lokal setempat. Di lingkungan keraton Yogyakarta dan Surakarta, lahir tradisi Sekaten dan Grebeg Maulud yang mengarak gunungan hasil bumi. Prosesi ini menjadi simbol rasa syukur dan doa bersama yang memadukan unsur Islam dengan tradisi Jawa kuno.

Corak perayaan Maulid Nabi di Indonesia juga sangat beragam dan berbeda di setiap daerah. Masyarakat Gorontalo mengenal tradisi Walima dengan mengusung kue tradisional menggunakan tolangga, sementara masyarakat Aceh menjalankan tradisi meuripee dengan memasak hidangan daging secara gotong royong. Di Sulawesi Selatan, terdapat tradisi Maudu Lompoa yang menampilkan arak-arakan replika perahu pinisi.

Hingga kini, tradisi Maulid Nabi bukan sekadar ajang perayaan seremonial belaka. Kegiatan ini diisi dengan pembacaan salawat, penelusuran sejarah hidup Rasulullah, bersedekah, serta mempererat ikatan silaturahmi antarsesama warga masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....