Menelusuri Jejak Sejarah Tempe dari Desa ke Panggung Global

  • 10 Mei 2026 21:28 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari - Tempe merupakan makanan asli Indonesia yang telah menjadi bagian dari identitas kuliner bangsa sejak berabad-abad silam di tanah Jawa. Keberadaannya pertama kali tercatat secara tertulis dalam Serat Centhini pada abad ke-19, yang menggambarkan hidangan tempe dalam jamuan makan tradisional. Meskipun sederhana, teknik fermentasi kedelai ini merupakan hasil inovasi jenius nenek moyang dalam mengolah sumber protein nabati yang terjangkau.

Dilansir dari Journal of Ethnic Foods, Sejarah mencatat bahwa tempe kemungkinan besar berkembang di wilayah Jawa Tengah, khususnya di sekitar daerah Yogyakarta dan Surakarta. Nama "tempe" diduga berasal dari bahasa Jawa Kuno "tumpi" yang merujuk pada jenis makanan berwarna putih yang terbuat dari tepung sagu. Evolusi penggunaan kacang kedelai sebagai bahan utama kemudian menjadikannya unik dan berbeda dari tradisi olahan kedelai asal Tiongkok seperti tahu.

Pada masa kolonial, tempe sering kali dijuluki sebagai "daging orang miskin" karena harganya yang murah namun mampu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Namun, pandangan ini berubah total seiring berjalannya waktu karena banyaknya penelitian yang mengungkap keajaiban nutrisi di dalamnya. Para ilmuwan kini mengakui bahwa proses fermentasi oleh jamur Rhizopus oligosporus menciptakan zat antibiotik alami yang sangat baik bagi pencernaan manusia.

Di masa kini, tempe bukan lagi sekadar makanan pendamping nasi di warung pinggir jalan, melainkan telah masuk ke menu restoran mewah di berbagai belahan dunia. Popularitas diet berbasis tanaman atau plant-based diet yang tren di tahun 2026 ini membuat tempe semakin digemari oleh masyarakat global. Keunggulannya sebagai superfood yang kaya akan protein dan vitamin B12 menjadikannya primadona baru bagi para pencinta pola hidup sehat.

Pengakuan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO juga sedang terus diupayakan guna memperkuat posisi hukum dan budaya Indonesia di mata dunia. Langkah ini penting dilakukan agar teknik pembuatan tempe yang otentik tetap terjaga dan tidak diklaim secara sepihak oleh negara lain. Hal ini membuktikan bahwa tempe memiliki nilai filosofis dan sejarah yang jauh lebih dalam daripada sekadar lauk pauk sehari-hari.

Menghargai sejarah tempe berarti kita turut menjaga kelestarian kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para perajin tradisional. Mari kita bangga mengonsumsi tempe sebagai produk asli nusantara yang telah diakui kualitasnya secara internasional karena cita rasa dan manfaatnya. Tempe adalah simbol ketahanan pangan yang cerdas, sehat, dan akan terus menjadi kebanggaan Indonesia di masa depan yang cemerlang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....