Begini Kendala Petani Padi di SP 2 Manokwari

  • 25 Mar 2026 11:09 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari – Petani padi di Kampung Desay, SP 2, Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, menghadapi sejumlah kendala yang berdampak pada menurunnya hasil panen. Selain dipengaruhi cuaca ekstrem yang terjadi pada awal tahun 2026, terdapat pula kendala nonteknis yang turut memperburuk kondisi produksi.

Salah satu petani padi, Arifin, mengungkapkan bahwa proses panen untuk musim tanam Desember 2025 yang seharusnya dilakukan pada akhir Maret 2026 terpaksa dipercepat. Hal ini disebabkan tanaman padi terserang penyakit patah leher sebelum memasuki masa panen optimal.

“Kami terpaksa panen lebih cepat karena cuaca ekstrem, sehingga padi kami terkena patah leher,” ujarnya, Senin 23 Maret 2026.

Penyakit patah leher merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman padi yang menyebabkan busuk pada leher malai. Dampaknya, malai menjadi patah, gabah menjadi hampa, dan kerugian hasil dapat mencapai 70 hingga 100 persen. Selain menurunkan produktivitas, kualitas beras yang dihasilkan juga menjadi kurang baik.

Selain masalah penyakit, keterbatasan mesin panen juga menjadi kendala bagi petani. Jumlah mesin yang terbatas menyebabkan proses panen sering terlambat dari waktu yang seharusnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Arifin yang juga Ketua Kelompok Tani Sri Makmur, mengaku kerap menyewa mesin panen dari desa tetangga dengan biaya sekitar Rp2,5 juta per hektare.

“Mesin ada, tetapi jumlahnya hanya dua unit, sehingga kewalahan saat musim panen bersamaan. Jika rusak, tidak ada mekanik, dan suku cadang juga sulit didapat,” jelasnya.

Kendala lain yang dihadapi adalah pasokan air irigasi yang sering terhambat. Pemalangan pintu air oleh pihak tertentu menyebabkan distribusi air ke sawah terganggu.

Sebagai solusi jangka pendek, Arifin berharap adanya program pembuatan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air pertanian.

Sementara itu, untuk pasokan pupuk di Kampung Desay masih terbilang aman. Harga pupuk relatif stabil dan stok tersedia. Selain menggunakan pupuk kimia, para petani juga memanfaatkan pupuk organik yang diolah dari kotoran sapi dan sekam padi.

Menurut Arifin, penggunaan pupuk organik yang telah dilakukan selama tiga tahun terakhir terbukti efektif dalam menjaga kesuburan tanah dan meningkatkan kualitas hasil panen.

“Kami mengelola pupuk organik secara bersama dalam kelompok. Ini juga sesuai dengan imbauan pemerintah untuk memanfaatkan pupuk organik,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....