Rehabilitasi Penyalahgunaan Narkotika
- 26 Feb 2026 08:43 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari : Rehabilitasi narkoba adalah proses pemulihan bagi individu yang mengalami kecanduan atau penyalahgunaan narkotika, baik secara medis maupun sosial, dengan tujuan membantu mereka berhenti dari penggunaan narkoba, pulih secara fisik dan mental, lalu kembali menjadi anggota masyarakat yang produktif. Hal ini disampaikan dr. Aling Yudha Prasta dalam program Spada Pro 2 " Rehabilitasi Penyalahgunaan Narkotika" . Kamis, 26 Februari 2026.
Dalam proses hukum, seseorang dapat diarahkan ke rehabilitasi jika perannya bukan sebagai pengedar atau tidak terlibat dalam jaringan peredaran. Rehabilitasi dilakukan secara bertahap dan terstruktur. Di Indonesia, program ini umumnya difasilitasi oleh Badan Narkotika Nasional (BNN), rumah sakit, dan Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL).
"Rehabilitasi tidak hanya satu jenis, tetapi kombinasi antara medis, psikologis, sosial, dukungan keluarga. Pemilihan jenis rehabilitasi tergantung pada tingkat ketergantungan, kondisi mental, serta lingkungan sosial." Ujarnya.
dr. Aling Yudha Prasta mengatakan rehabilitasi bukan semata hukuman, tetapi bentuk pendekatan kesehatan dan pemberdayaan sosial bagi korban penyalahgunaan. Keluarga memiliki peran sangat penting dan menentukan dalam keberhasilan rehabilitasi penyalahgunaan narkoba. Rehabilitasi bukan hanya proses medis, tetapi juga proses psikologis dan sosial yang membutuhkan dukungan lingkungan terdekat.
Setelah rehabilitasi selesai, tetap ada pemantauan (monitoring) dan pendampingan yang dikenal sebagai program Pascarehabilitasi (Aftercare). Hal ini krusial karena pemulihan dari penyalahgunaan narkotika adalah proses jangka panjang, bukan sekadar selesai masa inap di panti rehabilitasi.
Kekambuhan (relapse) adalah risiko yang umum dalam proses pemulihan. Namun, dengan strategi yang tepat dan dukungan yang konsisten, peluang untuk tetap bersih dari narkotika bisa sangat besar adalah sistem pendukung utama dalam rehabilitasi penyalahgunaan narkoba. Tanpa dukungan keluarga, risiko kambuh jauh lebih tinggi. Sebaliknya, dengan dukungan yang konsisten, peluang untuk pulih dan kembali produktif meningkat secara signifikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....