Pasokan Cabai Luar Daerah Tak Matikan Petani Lokal Sulawesi Utara

  • 21 Sep 2026 17:40 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menegaskan bahwa langkah mendatangkan cabai dari luar daerah merupakan kebijakan jangka pendek, terukur, dan bersifat sementara untuk menjaga ketersediaan pasokan, mengendalikan gejolak harga, serta melindungi daya beli masyarakat.

Kebijakan ini bukan bentuk keberpihakan kepada kepentingan tertentu dan sama sekali tidak dimaksudkan untuk melemahkan petani cabai Sulawesi Utara. Sebaliknya, pemerintah berkewajiban menjaga keseimbangan antara kepentingan petani sebagai produsen dan masyarakat sebagai konsumen.

Data BPS menunjukkan inflasi Sulawesi Utara pada Agustus 2026 mencapai 3,99 persen secara tahunan. Cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang memberikan tekanan terhadap inflasi. Bank Indonesia juga mencatat cabai rawit memberikan andil sekitar 0,33 persen terhadap inflasi bulanan Agustus, sementara tekanan harga berlanjut pada September.

Kondisi tersebut berkaitan dengan menurunnya produksi akibat kekeringan, baik di sentra produksi lokal maupun Gorontalo yang selama ini menjadi salah satu sumber utama pasokan Sulawesi Utara. Pada 11 September, harga cabai rawit dari Gorontalo bahkan tercatat mencapai sekitar Rp140.000 per kilogram.

Atas kondisi tersebut, Pemprov Sulut bersama TPID, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara, serta dengan dukungan kebijakan stabilisasi pangan pemerintah pusat/Badan Pangan Nasional, melakukan penguatan pasokan melalui distribusi antardaerah.

Langkah ini sejalan dengan kebijakan Badan Pangan Nasional yang menggunakan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) untuk memobilisasi komoditas dari wilayah surplus menuju wilayah yang mengalami kekurangan pasokan atau tekanan harga. Pada September 2026, Bapanas kembali menegaskan bahwa mobilisasi stok cabai dari daerah surplus menuju daerah dengan harga tinggi merupakan salah satu instrumen untuk meredam fluktuasi harga.

Pasokan tahap awal sebanyak 2,4 ton cabai rawit dari Probolinggo, Jawa Timur, didatangkan dan disalurkan ke beberapa pasar sebagai penetrasi pasar untuk memperkuat suplai. Pemilihan Probolinggo juga mempertimbangkan ketersediaan pasokan, harga di daerah produsen, serta karakteristik cabainya yang relatif sesuai dengan preferensi konsumen Sulawesi Utara.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....