Sebanyak 2,5 Ton Cabai Probolinggo Kembali Didistribusikan di Sulut
- 21 Sep 2026 10:14 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Sebanyak 2,5 ton cabai rawit merah kembali didistribusikan ke sejumlah pasar di Sulawesi Utara, Senin, 21 September 2026. Salah satu lokasi distribusi yakni Pasar Bersehati, Manado, yang mendapat alokasi sekitar 1,2 ton.
Distribusi ini merupakan bagian dari Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) tahap kedua yang dilakukan Pemprov Sulut bersama TPID melalui Bank Indonesia. Upaya tersebut untuk menambah pasokan dan menjaga harga cabai tetap terjangkau.
Pantauan di Pasar Bersehati Manado, cabai yang didatangkan dari Probolinggo, Jawa Timur, mulai didistribusikan kepada pedagang. Total pasokan yang masuk ke Sulut mencapai 2,5 ton atau sebanyak 84 koli dengan berat sekitar 30 kilogram per koli.
Pasokan tersebut diprioritaskan untuk lima pasar besar yang tersebar di empat kabupaten/kota, yakni Manado, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, dan Kotamobagu.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Utara, Rahel Rotinsulu, mengatakan FDP tahap kedua dilakukan karena pasokan cabai dari daerah lokal maupun sentra produksi seperti Gorontalo mengalami penurunan.
"Untuk tahap dua ini kita masih memprioritaskan lima pasar besar yang ada di kota/kabupaten, yakni Manado, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, dan Kotamobagu. Karena memang yang datang masih terbatas 2,5 ton," kata Rahel.
Jumlah tersebut sedikit meningkat dibandingkan FDP tahap pertama yang mendatangkan 2,4 ton cabai. Menurut Rahel, pasokan dari luar daerah diharapkan dapat menambah ketersediaan cabai sekaligus membantu menyesuaikan harga di tingkat konsumen.
"Kita mengambil dari luar, 2,5 ton. Dengan harapan ini bisa menyesuaikan harga, kemudian menambah pasokan untuk kebutuhan masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau," ujarnya.
Sementara itu, distributor cabai di Pasar Bersehati, Yasin Gani, mengatakan kebutuhan cabai rawit di pasar tersebut cukup tinggi.
"Untuk kebutuhan cabai rawit di Pasar Bersehati itu di kisaran 7 sampai 8 ton per hari. Kemudian untuk Sulawesi Utara, ini ada sekitar 16 sampai 17 ton per hari," kata Yasin.
Menurut Yasin, proses distribusi cabai di Pasar Bersehati dan sejumlah pasar lainnya berjalan tanpa kendala. Ia menyebut pembagian pasokan pada distribusi tahap kedua telah dilakukan kepada pedagang.
"Kalau untuk pembagian hari ini memang sudah rata seluruh pedagang yang ada di pasar-pasar. Dan ada beberapa pasar itu, ada empat pasar sudah terpenuhi," ujarnya.
Untuk menjaga harga tetap sesuai ketentuan, distributor menetapkan harga cabai hasil FDP sebesar Rp57.000 per kilogram di tingkat pengecer.
"Kalau harga untuk harga Rp57.000. Jadi kami sudah memberikan ultimatum di tingkat pengecer ketika mereka menjual dengan harga yang lebih dari Rp57.000, maka kami akan tarik kembali barang mereka. Ini yang sudah menjadi komitmen kami," tegas Yasin.
Harga tersebut juga diberlakukan untuk cabai yang didistribusikan ke Minahasa Selatan, Minahasa Utara, dan Kotamobagu. Rahel mengatakan pemerintah belum dapat memastikan jumlah tahapan FDP selanjutnya. Pelaksanaannya akan melihat perkembangan harga cabai, kebutuhan masyarakat, serta ketersediaan anggaran.
"Kita tidak dapat memastikan berapa tahap, cuma yang pasti kita melihat perkembangan yang ada. Nanti kalau memungkinkan untuk ada tahap ketiga, dari BI ataupun dari Bapanas, tetap akan kita coba lakukan," kata Rahel.
Ia menegaskan, kebijakan mendatangkan cabai dari luar daerah bukan untuk mengesampingkan petani lokal, tetapi sebagai upaya menambah pasokan ketika produksi daerah mengalami penurunan.
"Kita tidak, sekali lagi tidak dalam maksud mengesampingkan petani lokal, tetapi kita bermaksud untuk menyeimbangkan harga dan menambah pasokan dari luar serta menekan inflasi Sulawesi Utara," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....