Kemarau Panjang di Manado, BPBD-BPPW Sulut Pasok 8.000 Liter Air per Hari
- 31 Agt 2026 17:14 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Dampak kemarau panjang yang melanda Kota Manado selama tiga bulan terakhir memicu krisis air bersih bagi masyarakat di Kecamatan Mapanget. Kekeringan parah membuat sumur gali warga serta aliran keran air mengering total, hingga memaksa warga memikul beban ekonomi tambahan untuk membeli air bersih.
Kondisi paling berat dirasakan warga Kelurahan Paniki Satu sejak satu bulan belakangan. Karena pasokan air publik terhenti total, warga terpaksa merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah demi menopang kebutuhan harian rumah tangga.
Ni Luh Suardani, salah seorang warga Paniki Satu menuturkan, terbatasnya pasokan air membuat warga terpaksa membeli air tangki.
"Beli satu tong Rp100 ribu isi 1.200 liter hanya untuk empat hari. Bantuan pemerintah seminggu dua kali sangat membantu," ujar Ni Luh saat ditemui di lokasi, Kamis, 27 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, air bersih yang dibeli hanya digunakan untuk kebutuhan mendasar rumah tangga. Sementara untuk mandi atau mencuci pakaian, sebagian warga terpaksa pergi ke sungai.
"Air ini cuma dipakai untuk memasak dan cuci piring. Keran dan perigi sudah satu bulan full kosong," katanya.
Merespons krisis yang dialami masyarakat, Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Sulawesi Utara bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) merespons cepat dengan mendistribusikan air bersih secara gratis menggunakan truk tanki ke pemukiman warga.
Petugas BPPW Sulawesi Utara, Wahyu menjelaskan bahwa penyaluran air bersih ini difokuskan di wilayah Mapanget sesuai dengan permintaan dan titik lokasi kekeringan dari BPBD.
"Kami bagi dua tim untuk wilayah Manado. Sehari bisa salurkan dua rate atau sekitar 8.000 liter air untuk masyarakat," ujar Wahyu.
Penyaluran air bersih ini dipastikan akan terus dilakukan untuk membantu pemenuhan kebutuhan dasar warga selama masa kemarau berlangsung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....