Pompa Air Terkendala Solar, Petani Tempok Gagal Panen
- 12 Sep 2026 22:36 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Minahasa - Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Minahasa berdampak serius terhadap sektor pertanian di Desa Tempok, Kecamatan Tompaso. Sekitar 30 hektare lahan perkebunan dan 15 hektare persawahan kini mengalami kekeringan, tanah pecah-pecah, hingga menyebabkan petani gagal panen.
Hukum Tua Desa Tempok, Vano Sumilat, mengatakan kondisi tersebut terjadi akibat minimnya pasokan air selama musim kemarau berkepanjangan. Situasi semakin sulit karena rumah pompa air yang selama ini membantu distribusi air ke lahan pertanian belum dapat berfungsi secara maksimal.

“Fenomena alam kemarau panjang ini telah mengakibatkan 30 hektare ladang perkebunan dan 15 hektare sawah mengering, pecah-pecah dan para petani gagal panen,” ujar Vano Sumilat kepada RRI Manado, Rabu (9/9/2026).
Menurut Vano, tidak maksimalnya operasional rumah pompa air salah satunya dipengaruhi kendala mendapatkan bahan bakar minyak jenis solar. Kondisi tersebut membuat distribusi air ke persawahan maupun lahan perkebunan menjadi terbatas.
“Sulitnya mendapatkan BBM jenis solar dari Pertamina oleh pihak pengelola pom bensin tidak bisa melayani pembelian melalui wadah-wadah galon jika tidak ada surat pengantar atau rekom dari pemerintah daerah melalui instansi terkait,” katanya.
Meski demikian, pemerintah desa bersyukur masih memiliki satu unit rumah pompa air yang menggunakan tenaga surya. Namun, kapasitas dan jangkauan pompa tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh lahan pertanian di Desa Tempok.
“Tidak bisa menjangkau seluruh area persawahan dan perkebunan,” ujar Vano.
Kondisi kekeringan tersebut juga dirasakan langsung petani sawah, termasuk Opa Maxi Pantow. Ia mengatakan tanaman padi yang diusahakannya gagal panen akibat tidak mendapatkan pasokan air yang cukup selama kemarau panas berkepanjangan.
Padahal, sebelum terjadi fenomena El Nino dan kemarau panjang, lahan sawah miliknya mampu menghasilkan sekitar 20 karung gabah kering setiap kali panen. Kondisi tersebut kini berubah karena lahan sawah mengalami kekeringan dan tidak memperoleh pengairan secara optimal.
Pemerintah Desa Tempok berharap adanya dukungan pemerintah daerah dan pihak terkait untuk mengatasi persoalan pengairan serta membantu petani menghadapi dampak kemarau panjang. Perbaikan sistem pompa dan dukungan terhadap ketersediaan bahan bakar dinilai penting agar lahan pertanian dapat kembali produktif.
(Jeff Assa)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....