Perubahan Pola Tidur Lansia dan Dampaknya
- 27 Agt 2026 11:06 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Kualitas tidur yang buruk pada orang dewasa tua atau lansia berusia 60 tahun ke atas dapat berdampak pada kesehatan otak. Gangguan tidur seperti insomnia, sleep apnea, hingga sering terbangun pada malam hari diketahui berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif dan daya ingat serta dapat meningkatkan risiko demensia, termasuk penyakit Alzheimer.
Tidur merupakan proses biologis penting yang berperan dalam menjaga kesehatan tubuh. Selain mendukung sistem kekebalan dan metabolisme, tidur juga membantu menjaga fungsi otak. Karena itu, kualitas dan durasi tidur menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan, terutama pada kelompok lanjut usia.
Seiring bertambahnya usia, seseorang umumnya mengalami perubahan pola tidur. Lansia cenderung mengalami penurunan durasi tidur dalam atau slow-wave sleep, lebih sering terbangun pada malam hari, serta mengalami kesulitan untuk kembali tidur. Mereka juga cenderung tidur lebih awal dan bangun lebih pagi. Perubahan tersebut dapat menyebabkan kualitas tidur secara keseluruhan menurun. Kondisi ini kemudian dapat memengaruhi berbagai fungsi kognitif, salah satunya kemampuan mengingat.
Tidur yang cukup dan tidak terganggu berperan dalam proses konsolidasi memori, yaitu proses ketika informasi yang baru diperoleh diperkuat dan disimpan di dalam otak. Ketika tidur terganggu, proses tersebut dapat ikut terhambat. Selain memori, kurang tidur juga dapat memengaruhi perhatian dan konsentrasi. Seseorang yang kurang mendapatkan tidur berkualitas dapat mengalami kesulitan mempertahankan fokus serta mengalami perlambatan dalam memproses informasi.
Pada tahap tidur nyenyak, tubuh melakukan berbagai proses pemulihan. Sementara itu, pada fase tidur REM, otak berperan dalam pemrosesan emosi dan konsolidasi ingatan. Oleh karena itu, memperoleh tidur yang cukup dan berkualitas penting untuk membantu mempertahankan fungsi tubuh dan otak. Secara umum, orang dewasa membutuhkan sekitar tujuh hingga delapan jam tidur setiap malam. Waktu tidur tersebut dapat berbeda sesuai usia dan kondisi setiap individu.
Tidur nyenyak lebih banyak terjadi pada bagian awal periode tidur, sedangkan tidur REM cenderung lebih lama menjelang pagi. Karena itu, kebiasaan tidur terlalu larut dan bangun terlalu pagi dapat mengurangi kesempatan tubuh memperoleh waktu yang cukup pada kedua tahapan tidur tersebut. Menjaga pola tidur yang teratur dan mendapatkan waktu tidur yang cukup menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung kesehatan otak, khususnya pada usia lanjut.
(Sumber:tribratanews.polri.go.id)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....