Mengenal Burnout dan Cara Menghadapinya

  • 27 Agt 2026 15:33 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Burnout semakin sering dibicarakan, terutama di tengah tuntutan pekerjaan yang tinggi, jam kerja panjang, dan sulitnya menjaga keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Dikutip dari laman www.who.int Secara khusus, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mendefinisikan burnout sebagai fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. Burnout ditandai dengan kelelahan atau terkurasnya energi, semakin menjauh atau bersikap sinis terhadap pekerjaan, serta menurunnya rasa mampu menyelesaikan pekerjaan.

Dilansir dari laman www.mayoclinic.org Burnout bukan sekadar merasa lelah setelah bekerja seharian. Kondisi ini biasanya berkembang akibat tekanan pekerjaan yang berlangsung terus-menerus. Seseorang dapat mulai kehilangan semangat bekerja, merasa pekerjaannya tidak lagi bermakna, sulit berkonsentrasi, menjadi lebih mudah marah atau tidak sabar, serta merasa energinya tidak cukup untuk menyelesaikan tugas. Perubahan pola tidur dan keluhan fisik seperti sakit kepala atau gangguan pencernaan juga dapat muncul dan perlu diperhatikan.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko burnout, misalnya beban kerja yang terlalu berat, jam kerja yang panjang, kurangnya kendali terhadap pekerjaan, konflik dengan rekan kerja, kurangnya dukungan, serta keseimbangan kehidupan dan pekerjaan yang buruk. Artinya, burnout tidak selalu semata-mata persoalan kemampuan seseorang menghadapi tekanan. Kondisi lingkungan kerja dan bagaimana pekerjaan diatur juga dapat berperan penting.

Lantas, bagaimana cara menghadapinya? Salah satu langkah awal adalah mengenali batas kemampuan diri dan tidak menganggap kelelahan berkepanjangan sebagai sesuatu yang harus selalu ditahan. Mengatur prioritas pekerjaan, menetapkan target yang realistis, membicarakan beban kerja dengan atasan jika memungkinkan, serta mencari dukungan dari keluarga, teman, atau rekan kerja dapat membantu. Aktivitas fisik, kegiatan relaksasi, mindfulness, dan tidur yang cukup juga dapat menjadi bagian dari upaya mengelola stres.

Hal penting lainnya, burnout bukan diagnosis medis menurut WHO. Karena gejalanya dapat tumpang tindih dengan kondisi lain, seperti depresi, kecemasan, atau masalah kesehatan tertentu, seseorang sebaiknya tidak melakukan diagnosis sendiri. Jika kelelahan, perubahan suasana hati, gangguan tidur, atau kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari terus berlangsung dan mengganggu kehidupan, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau profesional kesehatan mental merupakan langkah yang tepat.

Pada akhirnya, mengenali burnout bukan berarti seseorang lemah atau tidak mampu bekerja. Justru, menyadari bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan perhatian merupakan bagian dari menjaga kesehatan. Bekerja keras memang penting, tetapi memberikan waktu untuk beristirahat, menjaga hubungan sosial, dan mencari bantuan ketika diperlukan juga sama pentingnya. Dengan mengenali tanda-tandanya lebih awal, kita dapat mengambil langkah untuk mengelola tekanan sebelum kondisi semakin berat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....