Udara Tercemar, Kesehatan Terancam

  • 11 Agt 2026 07:46 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Pencemaran udara masih menjadi salah satu persoalan lingkungan yang berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Paparan polutan berbahaya di udara dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, terutama gangguan pada sistem pernapasan. Dikutip dari laman polri.go.id pencemaran udara dapat disebabkan oleh berbagai sumber, mulai dari asap kendaraan bermotor, emisi industri, pembakaran sampah, hingga kebakaran hutan.

Sejumlah zat pencemar yang ditemukan di udara, seperti karbon monoksida atau CO, nitrogen dioksida atau NO₂, sulfur dioksida atau SO₂, ozon troposfer, serta partikel halus PM2.5 dan PM10, dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan manusia. Paparan polusi udara dalam jangka pendek dapat memicu iritasi saluran pernapasan, memperburuk gejala asma, serta menurunkan fungsi paru-paru. Sementara dalam jangka panjang, pencemaran udara dapat meningkatkan risiko penyakit kronis, seperti bronkitis, penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK, penyakit jantung, stroke, hingga kanker paru-paru.

Kelompok yang paling rentan terhadap dampak pencemaran udara adalah anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit kronis. Kondisi tersebut membuat mereka lebih mudah mengalami gangguan ketika terpapar kualitas udara yang buruk. Sejumlah polutan juga memiliki dampak yang berbeda terhadap tubuh. Gas sulfur dioksida, misalnya, dapat menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan, hingga saluran pernapasan di paru-paru dan dapat memperburuk kondisi penderita asma.

Sementara itu, paparan partikel PM10 dapat memperburuk gangguan pernapasan, menyebabkan iritasi, menurunkan fungsi paru-paru, memperparah asma, hingga meningkatkan risiko bronkitis kronis. Pada penderita penyakit jantung dan paru-paru, paparan partikel pencemar juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang lebih serius. Polutan nitrogen oksida atau NOx juga dapat menyebabkan masalah pernapasan dan peradangan paru-paru. Sedangkan timbal merupakan salah satu polutan yang berbahaya karena dapat terakumulasi di dalam tubuh dan memberikan dampak kesehatan dalam jangka panjang.

Meningkatnya jumlah penduduk dan perkembangan industri serta transportasi turut berkontribusi terhadap peningkatan emisi pencemar udara. Di sisi lain, aktivitas manusia seperti pembakaran sampah dan limbah pabrik juga menjadi sumber pencemaran. Selain faktor manusia, peristiwa alam seperti kebakaran hutan dan letusan gunung berapi juga dapat melepaskan debu serta gas pencemar ke atmosfer. Untuk mengurangi risiko paparan polusi udara, masyarakat diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama saat kualitas udara sedang buruk. Masyarakat juga disarankan memantau kualitas udara secara berkala dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika tingkat polusi meningkat.

Pengendalian pencemaran udara membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan dan pengawasan terhadap emisi industri, sementara masyarakat dapat berperan dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, memilih transportasi yang lebih ramah lingkungan, tidak membakar sampah, serta menjaga penghijauan. Dengan meningkatnya kesadaran dan partisipasi masyarakat, upaya pengendalian pencemaran udara diharapkan dapat dilakukan secara lebih efektif sehingga kualitas udara tetap terjaga dan masyarakat dapat hidup dalam lingkungan yang lebih sehat.

(Sumber:tribratanews.polri.go.id)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....