Retatrutide: Obat Diet Baru yang Ampuh untuk Diabetes Tipe 2
- 22 Mei 2026 08:01 WIB
- Manado
Poin Utama
- Penderita diabetes tipe 2 yang menggunakan Retatrutide dosis tertinggi berhasil menurunkan berat badan hingga 16,8% dalam 40 minggu.
- Retatrutide menargetkan tiga hormon sekaligus (GIP, GLP-1, glukagon), membuatnya lebih efektif membakar energi dan menekan nafsu makan dibanding Ozempic atau Wegovy.
- Obat ini masih dalam tahap uji klinis Fase 3 dan baru ditargetkan mendapat izin edar resmi FDA pada kisaran tahun 2027 atau 2028.
RRI.co.id, Manado — Raksasa farmasi Eli Lilly and Company mengumumkan hasil uji klinis Fase 3 yang menjanjikan dari obat eksperimental terbaru mereka, Retatrutide. Obat suntik sekali seminggu ini diprediksi akan menjadi game-changer berikutnya di pasar obat penurun berat badan dan diabetes tipe 2.
Dilansir dari ABC News, data terbaru menunjukkan, orang dewasa penderita diabetes tipe 2 yang mengonsumsi dosis tertinggi Retatrutide berhasil menurunkan berat badan rata-rata 16,8% atau sekitar 16,6 kilogram (36,6 pon) dalam kurun waktu 40 minggu.
Selain memangkas berat badan, obat ini juga terbukti efektif menurunkan kadar A1C (indikator kontrol gula darah jangka panjang) rata-rata sebesar 1,7% hingga 2,0%.
Berbeda dengan obat-obatan populer yang ada saat ini seperti Ozempic, Wegovy, atau Mounjaro, Retatrutide bekerja dengan menyasar tiga reseptor hormon sekaligus, yaitu GIP, GLP-1, dan glukagon. Karena kemampuan ini, Retatrutide dijuluki sebagai obat "triple agonist".
Para peneliti menjelaskan bahwa komponen pelacak glukagon dalam obat ini membantu tubuh membakar lebih banyak energi, sekaligus menekan nafsu makan dan memperbaiki kontrol gula darah secara signifikan.
"Bagi penderita diabetes tipe 2, menurunkan berat badan sekaligus mengontrol gula darah adalah perjuangan berat karena obesitas secara historis lebih sulit diobati pada kelompok ini," ujar Kenneth Custer, Wakil Presiden Eksekutif Lilly Cardiometabolic Health.
Uji klinis mencatat efek samping yang paling sering dikeluhkan oleh pasien adalah masalah pencernaan seperti mual, diare, dan muntah, yang biasanya terjadi saat dosis obat sedang ditingkatkan. Peneliti juga memantau laporan terkait peningkatan detak jantung pada beberapa partisipan.
Saat ini, Retatrutide masih dalam tahap eksperimental dan belum mengantongi izin resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA). Eli Lilly memperkirakan baru akan mengajukan persetujuan resmi ke FDA pada akhir tahun 2027 atau awal 2028.
Para ahli medis juga memberikan peringatan keras kepada masyarakat agar tidak membeli produk yang mengeklaim sebagai Retatrutide di pasar bebas atau secara daring saat ini, karena obat tersebut dipastikan palsu dan sangat berbahaya bagi kesehatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....