Jangan Disepelekan Kebiasaan Harian Pemicu Radang Usus Buntu

  • 18 Mei 2026 14:09 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Radang usus buntu atau apendisitis masih menjadi salah satu gangguan kesehatan yang kerap dianggap sepele, padahal kondisi ini dapat berkembang menjadi serius jika terlambat ditangani. Penyakit yang menyerang organ kecil berbentuk tabung di sisi kanan bawah usus besar ini dapat menyebabkan peradangan hebat hingga pecahnya usus buntu yang membahayakan nyawa penderitanya.

Dikutip dari laman resmi polri.go.id penyebab utama radang usus buntu adalah adanya penyumbatan pada rongga usus buntu. Penyumbatan tersebut bisa dipicu oleh feses yang mengeras, benda asing, hingga pembengkakan kelenjar getah bening. Ketika saluran tersumbat, bakteri akan berkembang biak dengan cepat dan memicu infeksi, pembengkakan, serta peradangan.

Gejala awal radang usus buntu sering kali tidak disadari karena menyerupai sakit perut biasa. Namun, ada beberapa tanda khas yang perlu diwaspadai, seperti nyeri perut yang awalnya terasa di sekitar pusar lalu berpindah ke bagian kanan bawah perut. Kondisi ini biasanya disertai mual, muntah, demam ringan, perut terasa kembung, hingga nyeri saat bagian perut disentuh.

Jika gejala tersebut berlangsung cukup lama, masyarakat diimbau untuk tidak menyepelekannya. Pemeriksaan medis perlu segera dilakukan agar kondisi tidak berkembang menjadi lebih parah. Dalam beberapa kasus, usus buntu yang meradang dapat pecah atau mengalami ruptur apendiks. Bila hal ini terjadi, infeksi bisa menyebar ke rongga perut dan mengancam keselamatan pasien.

Apendisitis diketahui dapat menyerang siapa saja. Namun, risiko tertinggi biasanya terjadi pada usia 15 hingga 30 tahun. Bahkan, radang usus buntu menjadi salah satu penyebab utama operasi perut pada anak-anak. Data menunjukkan bahwa empat dari setiap 1.000 anak harus menjalani operasi pengangkatan usus buntu sebelum usia 14 tahun.

Selain faktor infeksi dan penyumbatan, gaya hidup tidak sehat juga disebut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko radang usus buntu. Sejumlah kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele ternyata dapat memicu gangguan ini jika dilakukan terus-menerus.

Salah satu kebiasaan yang dinilai berisiko adalah sering menahan kentut. Kebiasaan ini membuat gas tertahan di saluran pencernaan sehingga tekanan dalam usus meningkat. Akibatnya, dinding usus bisa mengalami gangguan dan memicu peradangan pada usus buntu. Karena itu, masyarakat dianjurkan untuk tidak menahan gas berlebih dalam perut.

Selain itu, kebiasaan mengonsumsi makanan yang dibakar juga perlu dibatasi. Makanan yang dipanggang menggunakan arang hingga meninggalkan bagian hitam diketahui mengandung zat karsinogenik yang berbahaya bagi tubuh. Beberapa makanan seperti sate, ayam bakar, atau ikan bakar yang terlalu gosong diduga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk masalah pada saluran pencernaan.

Tidak hanya makanan bakar, gorengan juga menjadi salah satu jenis makanan yang perlu dikurangi. Makanan yang digoreng dengan minyak berulang kali dapat menghasilkan senyawa berbahaya bagi tubuh. Konsumsi gorengan secara berlebihan tidak hanya berdampak pada kolesterol dan kesehatan jantung, tetapi juga dapat mengganggu sistem pencernaan.

Kebiasaan lain yang turut disorot adalah terlalu sering mengonsumsi daging kalengan atau makanan instan olahan. Produk seperti sosis, kornet, dan daging olahan lainnya mengandung bahan pengawet dan zat tambahan tertentu yang jika dikonsumsi berlebihan dapat berdampak buruk bagi kesehatan tubuh.

Di sisi lain, masyarakat juga diingatkan untuk lebih berhati-hati saat membeli makanan di luar. Kebiasaan jajan sembarangan berisiko menyebabkan infeksi bakteri seperti Salmonella dan E. coli yang dapat berkembang pada makanan yang tidak higienis. Infeksi bakteri tersebut dapat memicu gangguan pada saluran pencernaan, termasuk peradangan usus buntu.

Selain itu, penting bagi masyarakat untuk tidak melakukan diagnosis sendiri saat mengalami nyeri perut berkepanjangan. Penanganan cepat sangat menentukan kondisi pasien, terutama jika radang usus buntu sudah memasuki tahap akut.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gejala dan faktor risiko radang usus buntu, diharapkan kasus komplikasi akibat keterlambatan penanganan dapat diminimalkan. Pemeriksaan sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi yang lebih berbahaya dan menghindari tindakan operasi darurat.

(Sumber:tribratanews.polri.go.id)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....