Efek WiFi di Rumah antara Kemudahan dan Potensi Dampaknya
- 05 Mei 2026 12:59 WIB
- Manado
RRI.CO.ID,Manado-Di era digital saat ini, penggunaan WiFi di rumah sudah menjadi kebutuhan utama. Mulai dari bekerja, belajar, hingga hiburan, hampir semua aktivitas bergantung pada koneksi internet. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul berbagai pertanyaan mengenai efek penggunaan WiFi dalam jangka panjang, baik dari sisi kesehatan maupun sosial.
Dari segi manfaat, WiFi memberikan akses informasi yang cepat dan luas. Anak-anak dapat belajar secara daring, orang tua bisa bekerja dari rumah, dan komunikasi jarak jauh menjadi lebih mudah. Kehadiran WiFi juga mendorong produktivitas serta membuka peluang ekonomi digital bagi banyak keluarga.
Dikutip dari laman kumparan.com,ada berbagai pendapat mengenai dampak paparan WiFi terhadap kesehatan tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa WiFi memiliki dampak negatif terhadap kesehatan tubuh, di sisi lain juga ada laporan yang mengklaim bahwa sinyal frekuensi radio (RF) dari WiFi terlalu rendah untuk menyebabkan kerusakan pada sistem tubuh manusia.
Sebuah artikel ilmiah berjudul Wi-Fi is an important threat to human health (Wi-Fi merupakan ancaman penting bagi kesehatan manusia), diterbitkan oleh Environmental Research pada Juli 2018, mencantumkan daftar penelitian-penelitian sebelumnya tentang dampak negatif WiFi terhadap tubuh.
Penelitian-penelitian tersebut menemukan bahwa WiFi berdampak pada: testis yang menyebabkan penurunan kesuburan pria, stress oksidatif, apoptosis (berhubungan dengan proses penting pada penyakit neurodegenerative atau penurunan fungsi otak), kerusakan DNA seluler (proses yang menyebabkan kanker), perubahan neuropsikiatri, hingga perubahan hormonal.
Paparan WiFi yang berlebihan juga dikaitkan dengan terganggunya pembelajaran dan daya ingat, kurang tidur, dan kelelahan akibat berkurangnya sekresi melatonin dan meningkatnya sekresi norepinefrin di malam hari.
WiFi yang menyala akan memancarkan radiasi. Bagaimanapun hal tersebut perlu diluruskan, karena tidak semua radiasi berbahaya. Perlu diketahui, ada dua jenis radiasi frekuensi radio EMF yang dihasilkan yaitu radiasi ionisasi dan non-ionisasi. Radiasi ionisasi adalah bentuk radiasi tingkat tinggi yang berpotensi merusak DNA.
Beberapa contoh radiasi ionisasi adalah sinar ultraviolet dan sinar-x. Sedangkan radiasi non-ionisasi adalah bentuk radiasi tingkat rendah yang umumnya tidak berbahaya karena dianggap tidak berpotensi merusak DNA. Contohnya adalah router dan WiFi, perangkat komputer, ponsel, dan Bluetooth.
Perhatian utama mengenai kekhawatiran penggunaan WiFi dan perangkat elektronik lainnya adalah,meskipun radiasi yang dipancarkannya rendah,WiFi dan perangkat elektronik ada di dekat kita dan selalu menyala bahkan ketika kita tidur. Ketika router WiFi mengirimkan data, maka ia akan memancarkan radiasi yang dapat diserap oleh tubuh. Semakin dekat jarak dengan WiFi maka semakin banyak radiasi yang masuk ke dalam tubuh. Namun begitu,seperti yang telah dijelaskan sebelumnya,meskipun tubuh terpapar langsung oleh radiasi WiFi,radiasi non-ionisasi tersebut tidak mampu merusak DNA dan sel secara langsung.
| Baca juga: Pentingnya 'Golden Period' Penanganan Stroke |
Untuk itu, para ahli menyarankan penggunaan WiFi secara bijak. Membatasi waktu penggunaan gadget, menciptakan waktu tanpa layar (screen-free time),serta menjaga jarak perangkat dari area tidur dapat menjadi langkah sederhana untuk meminimalkan dampak negatif.
Dengan pengelolaan yang tepat,WiFi tetap menjadi teknologi yang sangat bermanfaat tanpa harus mengorbankan kesehatan dan keharmonisan keluarga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....