Stres Kerja Berlebihan Ancaman Kesehatan di Dunia Kerja Modern

  • 12 Apr 2026 15:28 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Bekerja merupakan salah satu cara manusia untuk bertahan hidup. Dengan bekerja, seseorang dapat memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, di balik manfaat tersebut, beban kerja yang terlalu tinggi dan tekanan pekerjaan yang berkepanjangan kini menjadi perhatian serius karena dapat berdampak pada kesehatan, termasuk meningkatnya risiko penyakit berbahaya seperti stroke.

Sejumlah sumber kesehatan menyebutkan bahwa stres kerja yang berlebihan dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya stroke. Stres kronis yang terjadi dalam jangka panjang dapat memicu peningkatan hormon adrenalin dan kortisol dalam tubuh. Kondisi ini kemudian berdampak pada naiknya tekanan darah atau hipertensi, serta dapat menyebabkan pengentalan darah. Kedua kondisi tersebut berkontribusi pada meningkatnya risiko gangguan pembuluh darah yang dapat memicu stroke.

Stroke sendiri merupakan gangguan neurologis yang terjadi akibat terganggunya aliran darah ke otak. Selama ini, stroke lebih dikenal sebagai penyakit yang banyak menyerang kelompok usia lanjut, khususnya di atas 60 tahun. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kasus stroke juga mulai ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda, termasuk usia 40-an. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan pola risiko kesehatan di masyarakat modern.

Dalam penjelasan yang dikutip dari laman resmi polri.go.id stres memang termasuk salah satu faktor risiko stroke. Stres yang berasal dari tekanan pekerjaan, terutama jika berlangsung dalam waktu lama, dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Apalagi jika stres tersebut disertai dengan gaya hidup yang tidak sehat, risiko terjadinya hipertensi akan semakin meningkat, dan pada akhirnya dapat berujung pada stroke.

Stroke tidak terjadi secara tiba-tiba. Stroke merupakan komplikasi dari berbagai penyakit lain, salah satunya hipertensi. Oleh karena itu, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang menjadi salah satu faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap terjadinya stroke.

Penyebab stres sendiri sangat beragam, namun salah satu yang paling umum adalah tekanan pekerjaan. Kondisi pekerjaan yang menuntut, tetapi tidak memberikan kontrol yang cukup kepada pekerja, dapat memicu stres berkepanjangan. Dalam kondisi seperti ini, tubuh terus berada dalam keadaan tertekan yang jika tidak dikelola dengan baik dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik maupun mental.

Stres kerja juga sering kali berkaitan dengan faktor risiko stroke lainnya yang telah dikenal secara medis, seperti merokok, obesitas, dan tekanan darah tinggi. Kombinasi antara stres, pola hidup tidak sehat, serta kurangnya aktivitas fisik dapat memperbesar risiko seseorang mengalami stroke di kemudian hari.

Tanda-tanda stres umumnya dapat dikenali dari kondisi psikologis seseorang yang merasa tidak mampu mengontrol situasi, baik di lingkungan kerja maupun dalam kehidupan pribadi. Sebaliknya, ada juga kondisi di mana seseorang merasa terlalu banyak memikul tanggung jawab hingga semua beban pekerjaan terasa berada di pundaknya sendiri. Kondisi ini jika dibiarkan dapat memperburuk kesehatan secara keseluruhan.

Karena itu, para pekerja diimbau untuk lebih peka terhadap kondisi tubuh dan mental mereka. Ketika rasa stres mulai tidak terkendali, langkah yang dapat dilakukan antara lain beristirahat sejenak, mencari solusi atas beban kerja, serta berdiskusi dengan atasan terkait kendala yang dihadapi di tempat kerja. Dalam kondisi tertentu, konsultasi dengan tenaga profesional seperti dokter atau psikolog juga sangat dianjurkan.

Meski stres bukan satu-satunya faktor utama penyebab stroke, pengelolaan stres yang baik dapat membantu meningkatkan kualitas hidup seseorang. Masyarakat juga diingatkan untuk tidak langsung panik ketika menghadapi beban kerja yang tinggi, tetapi lebih fokus pada upaya menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kesehatan.

Stroke pada dasarnya adalah gangguan pada sistem saraf yang terjadi akibat terganggunya aliran darah ke otak. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan serius pada otak, bahkan berujung pada kecacatan hingga kematian jika tidak ditangani dengan cepat.

Jika sebelumnya stroke lebih banyak dialami oleh usia lanjut, kini kasus pada usia lebih muda semakin sering ditemukan. Hal ini diduga berkaitan erat dengan perubahan gaya hidup masyarakat modern, seperti konsumsi makanan cepat saji, kurangnya aktivitas fisik, serta kebiasaan kurang berolahraga.

Selain itu, risiko stroke juga meningkat pada individu yang memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Kondisi-kondisi tersebut, jika tidak dikendalikan dengan baik, dapat memperbesar kemungkinan seseorang mengalami stroke, bahkan di usia yang relatif muda.

Dengan meningkatnya kesadaran akan hubungan antara stres kerja dan kesehatan, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam mengelola beban pekerjaan serta menerapkan pola hidup sehat. Upaya pencegahan sejak dini menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko stroke dan menjaga kualitas hidup di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....