Fenomena Bumi Makin Gelap, Ilmuwan Sebut Efek Albedo

  • 15 Okt 2025 09:09 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Dari luar angkasa, Bumi tampak sebagai planet biru bercahaya lembut akibat pantulan sinar Matahari. Namun, para ilmuwan baru-baru ini menemukan hal yang mengkhawatirkan — Bumi perlahan menjadi lebih gelap.

Fenomena ini bukan pertanda kiamat, melainkan terkait dengan penurunan albedo, yaitu kemampuan Bumi memantulkan cahaya Matahari kembali ke luar angkasa.

Dulu, Bumi memantulkan cukup banyak sinar, tetapi kini pantulan cahaya berkurang, yang berarti lebih banyak energi diserap oleh permukaan planet.

Menurut hasil penelitian sejumlah lembaga antariksa, termasuk NASA, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan penurunan albedo:

1. Mencairnya es di kutub. Es dan salju berfungsi seperti “cermin raksasa” alami. Ketika mencair, permukaannya digantikan oleh laut atau daratan yang lebih gelap — menyerap lebih banyak panas daripada memantulkan.

2. Berkurangnya awan di Samudra Pasifik bagian timur.Awan rendah di atas laut biasanya membantu memantulkan cahaya Matahari. Kini, jumlahnya menurun, sehingga lebih banyak cahaya menembus permukaan laut dan diserap air.

3. Menurunnya tingkat polusi udara.Meski udara lebih bersih, partikel polusi (aerosol) dulu membantu memantulkan sinar Matahari. Kini, refleksi cahaya berkurang karena partikel-partikel itu semakin sedikit.

Dampaknya, Bumi menyerap lebih banyak panas, mempercepat siklus pemanasan global: panas meningkat → es mencair → pantulan menurun → panas bertambah.

Para ilmuwan menyebut kondisi ini sebagai “Earth’s Dimmer Problem”, atau masalah peredupan Bumi, di mana planet kita perlahan kehilangan kilau pantulannya dari pandangan luar angkasa.

Bumi memang masih tampak biru indah, tetapi di balik keindahan itu, planet ini sedang demam — kehilangan “cermin” alaminya untuk menahan panas berlebih.(Fika Hamzah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....