Satelit NASA Deteksi El Nino Kembali Aktif, Potensi Kekeringan Mengancam

  • 22 Jun 2026 15:01 WIB
  •  Manado
Poin Utama
  • NOAA resmi mendeklarasikan status aktif El Niño setelah suhu permukaan laut di Samudra Pasifik naik lebih dari 0,5 derajat Celsius selama beberapa bulan berturut-turut.
  • Fenomena ini diwaspadai karena berpotensi kuat memicu kemarau ekstrem dan kekeringan panjang di wilayah Pasifik Barat, termasuk Indonesia.
  • Data satelit NASA menunjukkan volume panas bawah laut yang mendekati kondisi El Niño dahsyat tahun 1997, dengan indikasi penguatan yang terus berjalan.

RRI.co.id, Manado - Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) resmi menyatakan bahwa fenomena iklim El Niño telah kembali aktif. Berdasarkan data pemantauan satelit NASA, intensitas fenomena ini terus menunjukkan tren penguatan yang signifikan.

Melalui pengamatan satelit Sentinel-6 Michael Freilich, para ilmuwan mendeteksi adanya kenaikan ketinggian permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Kenaikan tinggi permukaan air ini menjadi indikator kuat terjadinya pemuaian volume air akibat suhu laut yang menghangat di atas rata-rata.

Kembalinya El Niño memicu kekhawatiran global karena dampaknya yang masif terhadap pola cuaca. Fenomena alam ini biasanya membawa curah hujan tinggi yang memicu banjir di wilayah barat Amerika Serikat, namun sebaliknya, membawa risiko kekeringan parah bagi negara-negara di Pasifik Barat, termasuk Indonesia dan Australia.

"Untuk saat ini, kondisinya terlihat seperti akan menjadi fenomena yang besar. Namun, kami masih membutuhkan lebih banyak observasi untuk memastikan apa yang akan terjadi selanjutnya," ujar Severine Fournier, peneliti tingkat permukaan laut dari Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA.

Para peneliti mengungkapkan bahwa kondisi anomali di Pasifik Barat saat ini menunjukkan kemiripan dengan pola yang terjadi pada periode yang sama di tahun 1997. Sebagai catatan sejarah, tahun 1997 merupakan salah satu periode El Niño paling kuat dan merusak yang pernah tercatat dalam sejarah modern.

Meskipun akumulasi gelombang hangat (Gelombang Kelvin) di Pasifik Timur saat ini masih sedikit tertinggal dibanding tahun 1997, satelit mendeteksi adanya pergerakan gelombang panas baru yang terus mendekat. Hal ini menandakan pasokan energi panas di bawah permukaan laut masih terus bertambah.

Pengukuran kedalaman dan volume panas di bawah permukaan laut ini dinilai jauh lebih akurat untuk memprediksi dampak cuaca jangka panjang dibandingkan hanya mengukur suhu di permukaan saja.

Proyek pemantauan ini merupakan kolaborasi internasional antara NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA) guna membantu negara-negara terdampak untuk melakukan mitigasi bencana iklim sejak dini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....