Satelit Kembar NASA Siap Diluncurkan, Jaga Bumi dari Ancaman Badai Antariksa

  • 22 Jun 2026 15:00 WIB
  •  Manado
Poin Utama
  • NASA meluncurkan proyek satelit kembar DAPHNE untuk mempelajari hubungan antara atmosfer bawah dan atas Bumi guna memprediksi cuaca antariksa.
  • Data dari misi ini akan digunakan untuk melindungi infrastruktur penting di Bumi dan luar angkasa, termasuk jaringan GPS, satelit orbit rendah, dan keselamatan astronot.
  • Proyek senilai maksimal 250 juta dolar AS ini dipimpin oleh University of Colorado dan ditargetkan siap meluncur paling lambat tahun 2029 setelah melalui evaluasi pada 2027.

RRI.co.id, Manado - Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) resmi memilih konsep misi baru bernama DAPHNE (Dynamic Atmosphere-Ionosphere Explorer). Misi ini dirancang untuk meneliti bagaimana cuaca antariksa dan dinamika atmosfer Bumi saling memengaruhi serta berdampak pada teknologi manusia.

Proyek DAPHNE kini resmi memasuki Fase B pengembangan, yang mencakup perencanaan serta perancangan operasi penerbangan. Misi ini bakal mengandalkan sepasang satelit kembar identik untuk mempelajari bagaimana perubahan di atmosfer bawah Bumi memengaruhi atmosfer bagian atas, tempat terjadinya cuaca antariksa.

Pemahaman yang lebih mendalam mengenai interaksi ini sangat krusial. Pasalnya, fenomena cuaca ekstrem di antariksa berpotensi mengganggu sistem navigasi global seperti GPS, mengancam keselamatan satelit di orbit rendah Bumi, hingga membahayakan keselamatan para astronot yang sedang bertugas.

"NASA terus memajukan kepemimpinan Amerika Serikat sebagai negara yang siap menghadapi cuaca antariksa. Dengan memberikan wawasan baru tentang atmosfer Bumi, kita dapat memprediksi dan bersiap dengan lebih baik terhadap dampak yang memengaruhi kehidupan sehari-hari di Bumi maupun di luar angkasa," ujar Nicky Fox, Associate Administrator Science Mission Directorate di Markas Besar NASA.

Misi yang dipimpin oleh Aimee Merkel dari Laboratory for Atmospheric and Space Physics di University of Colorado, Boulder ini akan melakukan pengukuran multi-titik yang terkoordinasi terhadap angin netral, suhu, dan komposisi di lapisan termosfer.

Wilayah ionosfer dan termosfer merupakan zona transisi tempat atmosfer netral Bumi berubah menjadi plasma terionisasi ruang angkasa. Lapisan tipis yang mengelilingi planet ini terus bergerak konstan, dibentuk oleh pengaruh aktivitas matahari serta perubahan dari atmosfer bawah.

Proyek DAPHNE dijadwalkan menjalani tinjauan konfirmasi pada tahun 2027 mendatang untuk menilai kemajuan misi dan ketersediaan dana. Jika berhasil lolos konfirmasi, total perkiraan biaya misi ini dibatasi maksimal 250 juta dolar AS (sekitar 4,1 triliun rupiah), di luar biaya peluncuran. Satelit kembar ini ditargetkan meluncur paling cepat pada tahun 2029.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....