Cerita Ketua Kloter 5 Haji Sulut: Hadapi Cuaca Ekstrem hingga Jemaah Demensia
- 14 Jun 2026 14:55 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Kepulangan jemaah haji Sulawesi Utara (Sulut) yang tergabung dalam Kloter 5 menyisakan banyak cerita perjuangan dari Tanah Suci. Ketua Kloter 5, Kifli Lamusa, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi para jemaah pada musim haji tahun ini adalah faktor cuaca yang sangat panas dan ekstrem.
Menurut Kifli, perbedaan suhu yang mencolok antara Indonesia dan Arab Saudi sempat membatasi pergerakan ibadah jemaah ke Masjidil Haram. Cuaca ekstrem yang suhunya diperkirakan menyentuh angka 40 derajat Celsius tersebut memicu masalah kesehatan massal yang tak terhindarkan bagi para jemaah di lapangan.
"Kendala nomor satu adalah cuaca yang panasnya sampai ekstrem, bahkan bisa mencapai 40 derajat. Hal itu membuat kendala dan menghalangi di setiap sisi ibadah," ujar Kifli saat diwawancarai, Minggu, 14 Juni 2026.
Kondisi fisik jemaah pun langsung drop akibat sengatan cuaca ekstrem tersebut.
"Sehingga, kadang jemaah flu, sakit kepala, bahkan ada yang demam, itu biasa. Kalau flu ini, seluruh jemaah haji, termasuk saya juga tidak luput," katanya menambahkan.
Di samping faktor cuaca, Kifli juga membagikan pengalaman unik sekaligus menantang saat harus memberikan pengawasan ekstra kepada salah satu jemaah lansia berusia 75 tahun asal Bolaang Mongondow. Jemaah tersebut mendadak mengalami gejala demensia atau penurunan daya ingat setelah menempuh perjalanan udara.
Gejala perubahan sikap ini mulai terlihat pertama kali saat jemaah berada di dalam pesawat menuju Tanah Suci. Padahal, saat pemeriksaan kesehatan di daerah asal, jemaah lansia tersebut dinyatakan sehat dan lolos seluruh tahapan uji medis oleh tim dokter.
"Begitulah orang berhaji, ya kadang karena situasi kondisi panas di sana, muncullah mungkin barangkali penyakit bawaan," kata Kifli menjelaskan.
"Saya kaget luar biasa karena dapat telepon dari sektor bahwa ada salah seorang jemaah saya yang sudah menyapu di halaman Masjid Nabawi," katanya lagi mengenang kejadian.
Padahal, jemaah lansia tersebut tinggal di kamar hotel lantai paling atas dan turun ke halaman diduga karena refleks kebiasaan merawat rumah di kampung halamannya.
"Beliau berada di lantai paling tinggi hotel, mungkin karena kebiasaan di rumah. Kita rawat di Madinah hampir dua minggu sebelum dievakuasi ke Makkah," ujarnya.
Pihak panitia memastikan bahwa seluruh penanganan, baik pendampingan jemaah lansia hingga pelayanan medis, dilakukan secara cepat dan tanggap demi memastikan jemaah bisa menyelesaikan seluruh rukun haji dengan baik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....