Alasan Semut Jarang Muncul di Pantai
- 30 Agt 2026 14:49 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Hamparan pasir pantai sering tampak seperti wilayah yang tidak dihuni semut. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Semut tetap dapat hidup pada kawasan pesisir, hanya saja lingkungan pantai memiliki kondisi yang membuat banyak jenis semut kesulitan untuk bertahan.
Pantai terbuka menghadirkan sejumlah tantangan bagi semut. Suhu pasir dapat menjadi sangat tinggi karena menerima sinar Matahari secara langsung. Permukaan pasir juga terus berubah akibat tiupan angin dan gerakan air laut. Kandungan garam dari lingkungan laut turut menjadi faktor lain yang harus dihadapi. Keadaan ini membuat pantai berbeda dengan wilayah daratan yang memiliki tanah lebih padat dan dapat memberikan tempat yang lebih aman untuk membangun sarang.
Menurut Jurnal “On the Biogeography of Salt Limitation: A Study of Ant Communities” yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, kondisi lingkungan yang semakin dekat dengan laut dapat memengaruhi aktivitas komunitas semut. Penelitian tersebut mengamati 17 komunitas semut yang berada pada jarak 4 hingga 2.757 kilometer dari pantai. Para peneliti menemukan adanya perbedaan aktivitas semut dalam menemukan makanan berdasarkan jarak suatu wilayah dari laut. Kawasan yang berada kurang dari 10 kilometer dari pantai juga diduga mendapat paparan natrium lebih tinggi melalui aerosol laut. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kedekatan dengan laut dapat menciptakan tekanan lingkungan tertentu bagi komunitas semut.
Menurut Jurnal “Effects of Sea-Level Rise on Physiological Ecology of Populations of a Ground-Dwelling Ant” yang diterbitkan dalam Scientific Reports, kemampuan menghadapi air asin berbeda antara semut yang berasal dari kawasan pesisir dan semut yang hidup jauh dari laut. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa koloni dari kawasan pesisir memiliki kemampuan bertahan yang lebih berkaitan dengan kondisi lingkungan asalnya ketika menghadapi paparan air laut. Sementara itu, koloni dari daratan tidak memiliki tingkat penyesuaian yang sama. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan semut yang hidup dekat pantai membutuhkan kemampuan khusus untuk menghadapi genangan air asin.
| Baca juga: Antrean Lima Menit, Rasanya Setengah Jam |
Menurut Jurnal “Thermal Tolerance and Heritability in Dune-Dwelling Ants Reveal Bioindicator Potential for Climate Vulnerability in Coastal Ecosystems” yang diterbitkan dalam International Journal of Biometeorology, terdapat pula jenis semut yang justru mampu menjadikan bukit pasir sebagai habitat. Penelitian terhadap tiga jenis semut penghuni bukit pasir Brasil menemukan bahwa masing-masing memiliki kemampuan berbeda dalam menghadapi suhu tinggi. Salah satu jenis yang diteliti lebih aktif pada malam hari dan mempunyai tingkat toleransi panas yang berbeda dari jenis lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa beberapa jenis semut telah memiliki penyesuaian tertentu untuk menghadapi lingkungan pesisir yang ekstrem.
Jadi, ketiadaan semut yang terlihat jelas pada pantai bukan berarti tidak ada semut sama sekali. Lingkungan yang panas, mengandung garam, serta terus berubah membuat kawasan tersebut tidak cocok bagi banyak jenis semut. Hanya jenis tertentu dengan kemampuan bertahan dan penyesuaian khusus yang mampu hidup lebih baik pada lingkungan pesisir.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....