Mengapa Emosi Mudah Muncul Tiba-Tiba?

  • 07 Jul 2026 22:32 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Tidak sedikit orang yang tiba-tiba merasa marah, sedih, cemas, atau takut setelah mendengar ucapan tertentu, melihat suatu kejadian, atau mengingat pengalaman di masa lalu. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai respons terhadap pemicu emosional atau trigger.

Respons tersebut bukan muncul tanpa alasan. Otak manusia dirancang untuk mengenali berbagai pengalaman yang pernah dialami dan menghubungkannya dengan situasi yang sedang terjadi. Ketika ada kemiripan antara pengalaman lama dan kondisi saat ini, otak dapat dengan cepat mengaktifkan respons emosional sebagai bentuk perlindungan. Proses ini berlangsung sangat cepat sehingga sering kali emosi muncul sebelum seseorang sempat menilai keadaan secara rasional.

Dalam jurnal Functional Imaging Studies of Emotion Regulation: A Synthetic Review and Evolving Model of the Cognitive Control of Emotion yang diterbitkan di Perspectives on Psychological Science dijelaskan bahwa amigdala berperan sebagai bagian otak yang mengenali rangsangan emosional, terutama yang berkaitan dengan ancaman atau pengalaman negatif. Setelah amigdala memberikan sinyal, korteks prefrontal mengambil peran untuk mengevaluasi situasi dan membantu mengendalikan reaksi emosional agar tetap proporsional. Kajian tersebut menunjukkan bahwa pengaturan emosi melibatkan kerja sama beberapa bagian otak, bukan hanya satu pusat pengendali.

Penjelasan serupa disampaikan dalam jurnal Amygdala–Frontal Connectivity During Emotion Regulation yang diterbitkan dalam Social Cognitive and Affective Neuroscience. Melalui pencitraan otak, para peneliti menemukan bahwa komunikasi antara amigdala dan korteks prefrontal sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang mengelola emosi. Ketika seseorang berusaha menenangkan diri atau melihat suatu peristiwa dari sudut pandang yang berbeda, aktivitas korteks prefrontal meningkat sehingga respons emosional dapat dikendalikan. Sebaliknya, jika mekanisme tersebut tidak bekerja secara optimal, emosi akan muncul lebih cepat dan terasa lebih kuat. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa setiap orang dapat bereaksi secara berbeda meskipun menghadapi situasi yang sama.

Hasil berbagai kajian tersebut menunjukkan bahwa menjadi mudah terpicu bukan berarti seseorang lemah secara mental. Respons itu merupakan bagian dari cara kerja otak dalam mengenali pengalaman yang dianggap penting. Semakin baik seseorang memahami dan mengelola emosinya, semakin besar kemampuannya untuk merespons berbagai situasi dengan lebih tenang dan bijaksana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....