Mahasiswa Melek Digital atau Sekadar Melek Layar?

  • 21 Mar 2026 13:06 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Arus digitalisasi yang melaju begitu cepat telah menjadikan mahasiswa sebagai kelompok yang paling dalam terlibat dengan dunia digital dalam keseharian mereka.

Media sosial kini telah bertransformasi jauh melampaui fungsi awalnya sebagai hiburan, karena ia sudah tumbuh menjadi arena belajar, tempat bertukar gagasan, bahkan wadah yang sangat kuat dalam membentuk cara pandang seseorang terhadap berbagai isu.

Sayangnya, pertanyaan yang justru paling jarang muncul adalah apakah para mahasiswa yang terkenal paling aktif bermedia sosial ini sungguh-sungguh memiliki bekal literasi digital yang cukup tangguh untuk menghadapi banjir informasi yang tidak pernah berhenti mengalir setiap saat.

Dunia sains telah memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut dan hasilnya cukup membuat kita berpikir ulang. Menurut Jurnal Inspirasi Dunia: Jurnal Riset Pendidikan dan Bahasa Volume 3 Nomor 1 yang ditulis oleh Annisa Anastasia Salsabila, Dinie Anggraeni Dewi, dan Rizky Saeful Hayat pada tahun 2024, kemampuan literasi digital tidak bisa dinilai hanya dari seberapa rutin seseorang membuka perangkat digital atau mengakses media sosial dalam kesehariannya.

Jurnal tersebut menegaskan bahwa ancaman terbesar yang kini mengintai mahasiswa adalah kondisi yang disebut sebagai kebanjiran informasi, yakni situasi ketika jumlah informasi yang masuk begitu membludak sehingga kemampuan seseorang untuk memilah, menilai, dan membedakan mana informasi yang sahih dari yang menyesatkan menjadi sangat melemah. Lebih jauh lagi, jurnal ini menekankan bahwa literasi digital yang sejati mensyaratkan kemampuan berpikir kritis yang tajam, kepekaan dalam menilai kredibilitas sebuah sumber informasi, serta kesanggupan menggunakan teknologi secara etis dan penuh tanggung jawab, bukan sekadar mahir menekan tombol atau mengoperasikan fitur dalam sebuah aplikasi.

Penelitian yang lebih komprehensif mengungkap fakta bahwa intensitas seseorang dalam menggunakan platform digital sama sekali bukan jaminan bahwa literasi digitalnya sudah memadai.

Menurut Jurnal Peran Media Sosial dalam Pengembangan Literasi Digital yang diterbitkan melalui Seminar Nasional Paedagoria Universitas Muhammadiyah Mataram, sebuah tinjauan sistematis terhadap literatur ilmiah dari indeks Scopus, DOAJ, dan Google Scholar yang mencakup rentang waktu 2014 hingga 2024 menyimpulkan bahwa media sosial sesungguhnya memiliki kapasitas besar untuk mendorong peningkatan literasi digital mahasiswa, asalkan penerapannya benar-benar diintegrasikan secara cermat dan terarah ke dalam proses pembelajaran.

Namun di saat yang sama, jurnal ini juga mengidentifikasi berbagai hambatan yang masih nyata menghalangi, mulai dari minimnya akses terhadap infrastruktur teknologi, rendahnya kecakapan digital yang dimiliki oleh sebagian tenaga pengajar maupun mahasiswa itu sendiri, hingga ancaman serius berupa penyebaran konten yang tidak akurat dan menyesatkan. Temuan ini menjadi pengingat bahwa potensi media sosial sebagai wahana pengembangan literasi hanya akan benar-benar terwujud apabila diiringi oleh kesadaran kritis yang terus-menerus dilatih dan diasah.

Gambaran ini semakin menjadi perhatian ketika dilihat dari realitas keseharian mahasiswa masa kini yang lahir dan tumbuh berdampingan dengan teknologi sejak kecil. Menurut Jurnal ANALOGI: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Volume 2 Nomor 1 yang diterbitkan pada Januari 2024 oleh Saputro dan Shovmayanti, penelitian yang menyasar mahasiswa Universitas Teknologi Yogyakarta menemukan bahwa tingkat penetrasi pengguna internet pada rentang usia 19 hingga 34 tahun telah menyentuh angka 98,64 persen dari keseluruhan populasi Indonesia, sebuah angka yang dengan sangat gamblang menggambarkan betapa dalamnya mahasiswa telah terbenam dalam ekosistem digital. Meskipun demikian, jurnal ini mengingatkan dengan tegas bahwa besarnya angka pengguna tersebut belum sejalan dengan kualitas literasi digital yang sesungguhnya dimiliki, sebab tidak sedikit mahasiswa yang masih terjebak sebagai konsumen pasif yang hanya menyerap konten tanpa pernah benar-benar melatih dirinya untuk menganalisis dan mengevaluasi setiap informasi yang diterimanya secara kritis.

Membangun kesadaran akan literasi digital sejatinya bukanlah beban yang harus dipikul sendiri oleh setiap mahasiswa, melainkan sebuah tanggung jawab kolektif yang harus dijawab bersama oleh seluruh pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan tinggi. Lembaga kampus perlu bergerak lebih proaktif dengan merancang kurikulum yang sungguh-sungguh menempatkan pengembangan kecakapan digital sebagai bagian integral dari proses belajar mengajar, bukan sekadar sisipan yang hadir sekali lalu dilupakan. Mahasiswa yang benar-benar cakap secara digital adalah mereka yang tidak hanya lihai menggunakan berbagai aplikasi atau rajin memperbarui lini masa media sosial mereka, tetapi mereka yang mampu berpikir secara jernih dan kritis, menyaring setiap informasi dengan penuh kehati-hatian, serta menjadikan teknologi sebagai instrumen yang menghasilkan nilai positif nyata bagi diri mereka sendiri maupun bagi masyarakat yang lebih luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....