Mendengar yang Tak Terlihat dalam Eksistensi Radio di Era Digital
- 02 Sep 2026 19:06 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Ketika hampir seluruh media massa mengalami transformasi akibat digitalisasi yang ditandai oleh dominasi perpaduan audio dan visual, radio tetap mempertahankan karakteristik utamanya sebagai media yang berbasis suara.
Perubahan teknologi tidak serta-merta menghilangkan identitas radio, melainkan mendorongnya untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan karakter dasarnya. Penyampaian informasi melalui audio memberikan ruang yang lebih luas bagi pendengar untuk membangun imajinasi mengenai ruang, waktu, suasana, maupun sosok yang sedang berbicara.
Dengan demikian, radio tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga melibatkan pendengar dalam proses konstruksi makna melalui imajinasi.
Perjalanan panjang radio menunjukkan bahwa kekuatan media ini justru terletak pada kemampuannya mempertahankan karakter audio di tengah perkembangan teknologi komunikasi. Dalam kehidupan tertentu, manusia tidak selalu membutuhkan visual untuk memahami sebuah realitas.
Suara dapat membangun pengalaman emosional yang kuat melalui intonasi, nada, artikulasi, ritme, maupun berbagai unsur audio lainnya. Ketiadaan visual memberikan ruang bagi pendengar untuk mengembangkan abstraksi dan imajinasi secara mandiri.
Dalam konteks tersebut, radio menghadirkan pengalaman komunikasi yang berbeda karena realitas tidak diberikan secara utuh melalui gambar, melainkan dibangun oleh pendengar berdasarkan apa yang didengarnya.
Radio juga memberikan pelajaran penting mengenai bagaimana manusia dapat memahami sesuatu yang tidak terlihat. Melalui suara, pendengar belajar memberikan penilaian dan merespons seseorang berdasarkan apa yang disampaikan, cara menyampaikan, serta nuansa emosional yang terkandung di dalamnya.
Bahkan, dalam batas tertentu, komunikasi melalui radio mengajarkan tentang kepercayaan. Pendengar dapat mempercayai informasi dan memahami pengalaman seseorang meskipun tidak pernah bertemu secara langsung dengan orang yang berbicara.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa proses memahami seseorang idealnya tidak semata-mata ditentukan oleh identitas, status, maupun siapa yang menyampaikan suatu pernyataan, tetapi juga oleh substansi dari apa yang disampaikan.
Dalam pengertian tersebut, radio menghadirkan sebuah pelajaran epistemologis yang menarik, kebenaran semestinya tidak ditentukan semata-mata oleh siapa yang mengucapkannya, tetapi juga oleh apa yang diucapkannya dan bagaimana pernyataan tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Ketiadaan visual dalam radio, setidaknya secara konseptual, dapat mengurangi kecenderungan manusia untuk menilai seseorang berdasarkan penampilan.

Penulis: Herlan Purnomo Syamsi, S.Sos., SH
Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Brawijaya Malang (Forkom MH UB)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....