BUCIN: Aku Gak Bisa Hidup Tanpa Kamu!
- 14 Agt 2025 15:58 WIB
- Malang
KBRN, Malang: Fenomena “bucin” atau budak cinta makin sering terdengar di kalangan anak muda. Istilah ini merujuk pada sikap terlalu terikat pada pasangan hingga rela melakukan apa saja, bahkan mengorbankan diri sendiri. Tidak semua bentuk bucin itu sehat.
Kondisi ini disebut sebagai Love Addiction atau kecanduan cinta. Menurut Acevedo & Aron (2009), cinta romantis yang sehat atau matang biasanya ditandai dengan kebutuhan, memberi, romansa, dan persahabatan. Sebaliknya, cinta yang kurang matang cenderung memicu perilaku maladaptif, seperti ketergantungan berlebihan.
Data penelitian di Indonesia yang dilakukan Maria Margaretha dkk (2015) menunjukkan, 6,3% mahasiswa yang menjalin hubungan romantis mengalami love addiction. Gejalanya bisa berupa rasa takut berlebihan kehilangan pasangan, tidak mampu mengambil keputusan sendiri, hingga meyakini kebahagiaan hanya datang dari pasangan.
“Kalimat seperti ‘Aku tidak bisa hidup tanpamu’ atau ‘Hanya kamu sumber kebahagiaanku’ bisa jadi tanda peringatan,” jelas peneliti Timmreck (1990).
Dampaknya pun tidak main - main yaitu mulai dari kecemasan, gangguan tidur, penurunan produktivitas, hingga depresi. Penelitian Feeney & Noller (1990) bahkan menunjukkan, love addiction bisa berakar dari pola hubungan di masa kecil, terutama pada individu dengan anxious attachment style atau pola kelekatan cemas.
Fenomena ini juga dapat dijelaskan lewat Reinforcement Affect Theory, di mana seseorang menjadi terikat karena pasangan sering memberi penguatan positif, misalnya hadiah, perhatian berlebihan, atau selalu hadir di saat dibutuhkan. Hubungan yang sehat seharusnya memberi ruang bagi masing-masing individu untuk tumbuh, bukan mengekang.
“Cinta itu bukan berarti kehilangan diri sendiri,” tegas Alex Redcay (2018).
Jadi, sebelum bangga menyebut diri bucin, ada baiknya memastikan rasa sayang itu membawa dampak positif, bukan malah menjadi candu yang mengikat. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....