Aksi AMARAH UB Soroti Penyusutan Lahan Pertanian di Kota Malang

  • 24 Sep 2026 21:44 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang — Aliansi Mahasiswa Resah Brawijaya (AMARAH Brawijaya) menyoroti penyusutan lahan pertanian akibat pembangunan dalam aksi memperingati Hari Tani Nasional di depan Gedung DPRD Kota Malang, Kamis (24/9/2026).

Koordinator lapangan aksi, Farhan, mengatakan alih fungsi lahan pertanian dapat mengurangi pendapatan petani kecil dan mengancam pemenuhan pangan masyarakat.

“Menurunnya lahan pertanian berarti berkurangnya pendapatan petani-petani kecil. Selain itu, hal tersebut juga mengurangi penghasilan dan pemenuhan pangan,” kata Farhan.

Menurut dia, target swasembada pangan akan sulit dicapai apabila lahan pertanian terus dialihkan untuk pembangunan.

“Bagaimana swasembada pangan mau tercapai kalau lahan-lahan pertanian banyak digusur untuk pembangunan?” ujarnya.

Farhan mengatakan pemerintah tetap perlu menyediakan lahan untuk permukiman. Namun, pemerintah harus menentukan lahan yang dipertahankan sebagai kawasan pertanian dan lahan yang dapat dialihfungsikan.

Ia juga menilai alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan dapat mengurangi daya resap tanah di Kota Malang. Karena itu, setiap pembangunan perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.

Farhan menjelaskan, aksi tersebut bertujuan menyampaikan orasi dan aspirasi, bukan mendesak anggota DPRD Kota Malang turun menemui massa.

“Kami memang bertujuan menyampaikan orasi dan pendapat. Bukan tujuan kami memaksa dan mendesak mereka keluar untuk berdiskusi,” katanya.

AMARAH Brawijaya masih kecewa terhadap DPRD setelah aksi Indonesia Gawat Darurat sebelumnya. Farhan menyebut sejumlah pernyataan yang disampaikan anggota DPRD saat itu belum diimplementasikan dengan baik.

Dalam aksi Hari Tani Nasional tersebut, mahasiswa membawa 10 tuntutan. Sembilan di antaranya berkaitan dengan reforma agraria dan diarahkan pada kebijakan pemerintah pusat, termasuk program swasembada pangan.

Aksi juga diwarnai pementasan teatrikal Liturgi Menjelaga oleh Teater Kertas Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Pementasan itu mengangkat isu kerusakan lingkungan dan kebakaran hutan di Kalimantan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....