El Nino Diperkirakan hingga Februari 2027, Jatim Diminta Waspadai Kekeringan

  • 14 Sep 2026 16:07 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Fenomena El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga Februari 2027, sehingga masyarakat Jawa Timur diminta bersiap menghadapi periode kering yang lebih panjang. Meski demikian, musim hujan tetap diperkirakan datang menjelang akhir 2026.

El Nino tidak berarti Jawa Timur sama sekali tidak akan mengalami hujan. Hujan tetap berpeluang turun, tetapi intensitasnya diperkirakan tidak seperti kondisi normal.

“Kalau El Nino-nya mungkin hingga Februari, tapi musim hujannya tetap. Nanti ada hujan, cuma tidak seintens normalnya,” kata Ketua Tim Kerja Meteorologi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Juanda, Andrie Wijaya dalam program Halo RRI, Senin (14/9/2026).

Menurut Andrie, periode pancaroba tetap akan terjadi. Hujan mulai berpeluang muncul sekitar Oktober, meskipun penentuan awal musim hujan secara resmi masih menunggu rilis dari bidang klimatologi BMKG.

“Nanti musim hujannya kisaran kalau tidak November atau Desember, tapi kita tunggu rilis resminya,” ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena periode kering yang lebih panjang, ditambah udara kering dan angin yang cukup kencang, dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan. Risiko tidak hanya terjadi di kawasan hutan, tetapi juga lahan perkebunan, permukiman dan area dengan vegetasi kering.

“Udara kering itu akan mungkin lebih lama, kemudian kelembapannya lebih kering, anginnya lumayan kencang, sehingga potensi atau kemungkinan kebakaran hutan, pemukiman, perkebunan itu lebih besar,” jelas Andrie.

Karena itu, BMKG meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Pembakaran sampah dan pembuangan puntung rokok di lahan kering menjadi salah satu aktivitas yang harus dihindari.

Selain ancaman kebakaran, kondisi panas dan kering juga dapat berdampak terhadap kesehatan serta ketersediaan air. Masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi panas.

“Untuk kesehatan, menjaga diri cukup lebih sering minum air putih agar tidak atau menghindari dehidrasi. Kalau terpaksa beraktivitas di luar, kami merekomendasikan menggunakan sunscreen, melindungi kepala dan memakai baju yang tertutup,” katanya.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama periode kering. Jika hujan turun, air hujan dapat dimanfaatkan dan ditampung untuk mengurangi tekanan terhadap sumber air.

Menghadapi perkembangan cuaca belakangan ini, BMKG membuka peluang pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berdasarkan permintaan pemerintah daerah atau kementerian terkait, terutama ketika terdapat kondisi cuaca khusus atau kebutuhan penanganan bencana.

Andrie menyebut OMC sebelumnya telah dilakukan pada 4-8 September 2026 berdasarkan permintaan Menteri Kehutanan. Namun, untuk pelaksanaan OMC dalam waktu dekat terkait penanganan karhutla di Jawa Timur, BMKG masih menunggu permintaan resmi dari pemerintah daerah.

“Kita belum tahu. Biasanya kita yang disurati. Kita masih belum ada surat lanjutan,” ujarnya.

BMKG mengimbau masyarakat terus mengikuti perkembangan prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi. Informasi tersebut diperbarui secara berkala dan mencakup prakiraan cuaca wilayah Jawa Timur serta peringatan dini apabila terdapat potensi cuaca yang perlu diwaspadai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....