Karhutla Bromo Hanguskan Lebih dari 200 Hektare di Pasuruan, Wisata Belum Dibuka
- 14 Agt 2026 11:07 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Pasuruan - Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tidak hanya mengancam kawasan konservasi, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas pariwisata dan perekonomian masyarakat di sekitar Bromo.
Di wilayah Kabupaten Pasuruan, luas kawasan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai lebih dari 200 hektare. Sementara secara keseluruhan, kebakaran yang terjadi di kawasan Bromo dan wilayah terdampak lainnya disebut telah meluas hingga lebih dari 1.000 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Haryadi, mengatakan kawasan yang terdampak di wilayah Pasuruan meliputi sejumlah titik, mulai dari Bukit Dingklik, Bukit Cinta hingga kawasan Penanjakan.
“Di Kabupaten Pasuruan kurang lebih 200 hektare, bahkan lebih dari 200 hektare yang terbakar. Kalau secara keseluruhan di beberapa wilayah, luasnya lebih dari 1.000 hektare,” kata Sugeng, Jumat (14/8/2026).
Kebakaran yang berlangsung selama sekitar 11 hari tersebut sempat merembet ke sejumlah titik yang berada di kawasan wisata Bromo. Api yang sebelumnya berada di Bukit Dingklik meluas hingga Bukit Cinta dan kawasan sekitar Penanjakan. Di sisi lain, titik kebakaran juga sempat terpantau hingga Bukit Seruni di wilayah Kabupaten Probolinggo.
Penanganan dilakukan secara besar-besaran dengan melibatkan personel dari berbagai unsur. Selain BPBD, operasi pemadaman juga melibatkan TNI, Polri, BNPB, pengelola TNBTS, pemadam kebakaran, relawan hingga masyarakat.
Pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara. Penggunaan helikopter water bombing menjadi salah satu upaya untuk menjangkau titik-titik api yang sulit diakses petugas karena kondisi medan berupa kawasan pegunungan dan lereng.
Namun, hingga kini kawasan wisata Bromo belum dipastikan kapan akan kembali dibuka untuk wisatawan. Sugeng mengatakan belum ada keputusan resmi mengenai pembukaan kembali aktivitas pariwisata.
Pembukaan kawasan wisata, menurutnya, masih menunggu kondisi benar-benar aman dan adanya keputusan resmi dari pihak terkait.
Penutupan kawasan wisata selama proses penanganan karhutla turut berdampak terhadap masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor pariwisata. Aktivitas pelaku usaha, penyedia jasa hingga pedagang makanan di sekitar kawasan wisata ikut tertunda selama Bromo belum dapat dikunjungi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya upaya pencegahan kebakaran di kawasan wisata. Sugeng mengingatkan masyarakat dan wisatawan agar tidak membuat api sembarangan maupun membuang puntung rokok di kawasan yang memiliki vegetasi kering.
Menurutnya, satu kelalaian kecil dapat memicu kebakaran besar, terutama ketika musim kemarau disertai angin kencang. Medan Bromo yang berbukit dan bertebing juga membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit.
“Vegetasinya sangat kering sehingga mudah terjadi kebakaran. Angin yang cukup kencang juga mendukung penyebaran api, sementara lokasi yang bertebing membuat proses pemadaman lebih sulit,” ujarnya.
BPBD berharap masyarakat dan calon wisatawan dapat bersama-sama menjaga kawasan Bromo ketika nantinya aktivitas wisata kembali dibuka. Bromo, menurut Sugeng, merupakan kawasan yang harus dijaga bersama agar peristiwa kebakaran serupa tidak kembali terjadi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....