SDN Kebonsari 2 Kekurangan Guru Kelas

  • 11 Agt 2026 21:16 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – SDN Kebonsari 2 Kota Malang masih mengalami kekurangan dua guru kelas. Kondisi ini membuat sekolah sementara menempatkan guru olahraga untuk membantu menangani kelas yang tidak memiliki guru tetap.

Guru Kelas 5B SDN Kebonsari 2, Sulistyowati mengatakan, sekolah saat ini memiliki 18 rombongan belajar dengan tiga kelas pada setiap jenjang kelas 1 hingga kelas 6. Namun, jumlah guru kelas yang tersedia baru 16 orang.

“Guru kelasnya seharusnya 18, sekarang baru 16, jadi kurang dua. Untuk sementara guru olahraga ditaruh dulu di kelas karena memang kami kekurangan guru,” ujar Sulistyowati, Selasa (11/8/2026).

Dua kelas yang mengalami kekurangan guru tersebut yakni kelas 2 dan kelas 3. Kekosongan terjadi setelah guru kelas 2 meninggal dunia pada 2025, sementara guru kelas 3 mendapat tugas sebagai kepala sekolah.

Sulistyowati mengatakan kondisi kekurangan guru tersebut telah berlangsung hampir satu semester. Pihak sekolah juga telah melaporkan kebutuhan tambahan guru kepada Dinas Pendidikan Kota Malang, namun hingga kini belum ada tambahan guru yang ditempatkan.

“Kalau tidak ada gurunya, kami khawatir anak-anak terbengkalai. Karena itu kami usahakan selalu ada guru yang standby di kelas,” katanya.

Untuk sementara, guru olahraga, Vika, mendapat mandat membantu menangani salah satu kelas. Sementara tugas mengajar olahraga dibantu dua guru olahraga lainnya, yakni Dimas dan Candra.

Menurut Sulistyowati, penempatan guru olahraga di kelas dilakukan sebagai solusi sementara sembari menunggu tambahan guru P3K. Sekolah tidak bisa merekrut tenaga baru secara mandiri karena keterbatasan pembiayaan.

“Kalau nanti ada P3K masuk, baru dikembalikan ke porsinya sebagai guru olahraga,” ucapnya.

Kondisi ini juga menjadi perhatian karena jumlah siswa di SDN Kebonsari 2 tergolong padat. Setiap kelas rata-rata berisi 28 siswa, sehingga pengawasan tetap diperlukan meski proses pembelajaran sedang berlangsung.

Sulistyowati menambahkan, keberadaan guru di kelas tidak hanya penting untuk menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga memastikan siswa tetap terawasi. Saat kelas ditinggalkan tanpa pengawasan, potensi terjadinya konflik antarsiswa menjadi lebih besar.

“Ditinggal sedikit saja, kadang anak-anak jambak-jambakan. Ada yang sampai orang tuanya bertanya, anaknya kok banyak cubitan,” ujarnya.

Pihak sekolah berharap kebutuhan dua guru kelas tersebut segera mendapat solusi dari Dinas Pendidikan Kota Malang. Sebab, kekurangan tenaga pengajar tidak hanya berdampak pada beban guru, tetapi juga pada pengawasan dan kenyamanan proses belajar siswa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....